HASIL PTK MGMP PKn SMP KLU TAHUN 2012

Hasil PTK MGMP PKn SMP Kab. Lombok Utara Klpk. Wilayah Gangga 2012

 

EFEKTIFITAS MODEL PEMBELAJARAN  KOOFERATIF LEANING TIFE  JIGSAW UNTUK PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN PKn

KELAS VII  SEMESTER  1 SMPN 2 GANGGA TAHUN PELAJARAN 2012 /2013.

LALU HAERUDIN, S.Pd.,AHMAD AHYAR RASIDI, S.Pd. Drs.ILHAM,  SAEP, S.Pd.SRIANA , S.Pd., ABDI WARMAN , S.Pd. SAHNAN, S.Pd.,MAHRIP, S.Pd.,AGUS SARJONO, S.Pd.NANI PRIHARTINI, S.Pd

 

Abstrak :Penelitan ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII.C SMPN 2 Gangga pada materi Makna Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi yang pertama melalui Penerapan Model Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam proses belajar mengajar. Jenis penelitan yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dalam 2 siklus pada siswa kelas VII.C SMPN 2 Gangga yang berjumlah 29 siswa yang dijadikan sebagai objek. Hasil penelitian menunjukkan aktifitas belajar siswa pada siklus 1 sebesar 5 dengan katagori aktif dan siklus 2 sebesar 6 dengan katagori sangat aktif. Data ketuntasan klasikal siklus 1 di peroleh 71,42% dan siklus II sebesar 88,88 %. Jadi berdasarkan   hasil data keseluruhan baik data aktivitas maupun data hasil belajar siswa dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw  dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII.C SMPN 2 Gangga Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara Tahun Pelajaran2012/2013.

Kata kunci : model kooperatif tipe Jigsaw, hasil belajar.

Sekolah adalah tempat siswa untuk memperoleh ilmu pengetahuan serta rmengembangkan minat dan bakat yang ada pada siswa. Sehingga untuk itu diperlukan suasana pembelajaran siswa yang aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan agar semua potensi yang ada pada siswa dapat berkembang dan tersalurkan dengan sempurna.

Namun pada kenyaataan yang kita jumpai di sekolah, khususnya pada SMP Negeri 2 Gangga ini banyak siswa yang hasil belajarnya masih rendah. Terutama dalam materi pembelajaran PKn, hal ini dikarenakan sebagian besar siswa menganggap materi pembelajaran PKn itu membosankan dan sulit dipahami.

Belajar adalah proses untuk membuat perubahan dalam diri siswa dengan cara berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapatkan perubahan dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Pembelajaran adalah pengembangan pengetahuan, keterampilan, atau sikap baru pada saat seorang individu untuk berinteraksi dengan informasi dan lingkungan.

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerjasama dan membantu memahami suatu bahan pembelajaran.

Dalam pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi saja, namun siswa juga harus mempelajari keterampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok. Sedangkan peranan tugas dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok selama kegiatan.Tindakan yang dilakukan untuk mencoba mengatasi masalah ini adalah mencari model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa dan bisa memotivasi siswa yang tidak aktif maupun yang kurang aktif dalam proses pembelajaran.

Tipe Jigsaw adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif di mana pembelajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa yang bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mendapatkan pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Pada pembelajaran tipe Jigsaw ini setiap siswa menjadi anggota dari 2 kelompok, yaitu anggota kelompok asal dan anggota kelompok ahli. Anggota kelompok asal terdiri dari 3-5 siswa yang setiap anggotanya diberi nomor kepala 1-5. Nomor kepala yang sama pada kelompok asal berkumpul pada suatu kelompok yang disebut kelompok ahli.

Hasil belajar merupakan pencapaian tujuan pendidikan pada siswa yang mengikuti proses belajar mengajar. Hasil belajar perlu dievaluasi. Evaluasi dimaksudkan sebagai cermin untuk melihat kembali apakah tujuan yang ditetapkan telah tercapai dan apakah proses belajar mengajar telah berlangsung efektif untuk memperoleh hasil belajar.

Penelitian bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas VII.C di SMP Negeri 2 Gangga kec. Gangga Kab. Lombok Utara Provinsi  NTB TP. 2012/2013.

METODE  PENELITIAN

Subyek penelitian adalah siswa kelas VII.C SMP Negeri 2 Gangga yang berjumlah 29 orang. Rancangan penelitian adalah penelitian tindakan kelasatau Classroom based action research. Penelitian terdiri atas dua siklus. Siklus I dilaksanakan pada tanggal 5 November 2012 dan Siklus II pada tanggal 8 Desember 2012. Masing-masing siklus melalui tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Secara umum alur pelaksanaan tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini digambarkan, seperti gambar 1 berikutini

Perencanaan

SIKLUS I

Pengamatan

Pelaksanaan

refleksi

Perencanaan

SIKLUS II

Perencanaan

Pelaksanaan

refleksi

Pelaporan

Arikunto, 2008

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Penelitian

Siklus I

a)        Perencanaan

Pada tahap perencanaan ini dilakukan persiapan seperti membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), menyiapkan lembar obervasi siswa dan guru yang digunakan untuk mengamati aktivitas proses pembelajaran selama penelitian berlangsung, menyiapkan Lembar Diskusi Siswa (LDS), dan menyiapkan tes evaluasi (tes hasil belajar).

b)        Pelaksanaan

Pada tahap ini, pelaksanaan siklus I dilaksanakan satu kali pertemuan dimana pada pertemuan ini menyampaikan materi Unsur dan Senyawa kemudian mengerjakan LDS dan setelah itu dilaksanakan evaluasi siklus I sub pokok bahasan Unsur dan Senyawa.

c)        Observasi dan Evaluasi

1)   Hasil observasi aktivitas siswa

Berdasarkan kriteria penggolongan aktivitas siswa yang telah diobservasi secara kelompok pada siklus I sebesar 12 dan berkategori aktif.

2)   Hasil observasi aktivitas guru

Hasil observasi diperoleh dari pengamatan yang dilakukan oleh guru sejawat (pendamping) dengan mengisi lembar observasi yang telah dipersiapkan. Semua aktivitas guru yang nampak diberi tanda rumput dalam lembar observasi. Adapun hasil yang diperoleh yaitu aktivitas guru berada diinterval 5-4 yang tergolong dalam kategori baik.

3)   Hasil evaluasi belajar siswa

Berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilaksanakan diperoleh data seperti pada tabel berikut ini :

No

Nama Siswa

Jumlah

Skor

Keterangan

Tuntas

Tidak

1 Amril Rahmat Rahim

60

2 Dedi Supriadi

50

3 Dendi Putrawan

80

4 Dodik Krismon

60

5 Erwin

60

6 Erwin Pradana

70

7 Esi Yusmita

60

8 Fedri Haduanto

50

9 Gito Saputra

60

10 Hendi Hariawan

40

11 Heri Efendi

50

12 Heri Satri Sukma

70

13 Ikawati

60

14 Irawan Wahyudi

70

15 Juhaeni

50

16 Jumadil Akhir

70

17 Lili Rahayu Septiana

50

18 Megawati

70

19 Muniati

70

20 Pandi Hardianto

65

21 Pina Handayani

70

22 Pipin Nopia

70

23 Sahrul Nizam Al-Fazani

50

24 Silvia Haerani

80

25 Tarmizi

70

26 Tomi Arizona

70

27 Yanti Temarwut

50

28 Yogi Komala Tobing

70

29 Zohri

70

Jumlah

1815

21

8

Rata-rata Nilai

62,58

Tabel 1.1 Nilai Hasil Evaluasi Siswa Siklus I

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa hasil evaluasi belajar siswa diperoleh rata-rata nilai sebesar 62,58. Dari 29 siswa terdapat 21 siswa yang tuntas dan 8 siswa tidak tuntas. Sehingga ketuntasan klasikal diperoleh 72,41%. Karena ketuntasan klasikal tercapai apabila banyaknya siswa yang tuntas ≥ 85%, maka pada siklus I ini ketuntasan klasikal belum tercapai.

d)   Refleksi

Dilihat dari analisis evaluasi pada siklus I presentase ketuntasan belajar belum tercapai 72,41%. Hal ini disebabkan karena belum sempurnanya penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada siklus I.

Pada siklus II diadakan penyempurnaan dan perbaikan terhadap kendala-kendala pada siklus I seperti: kurangnya LDS, masih ada siswa yang belum aktif dalam diskusi, perhatian guru tidak merata pada semua kelompok dan guru tidak mengontrol siswa yang tidak aktif pada kelompok tertentu.

Siklus II

a)    Perencanaan

Hasil penelitian siklus II merupakan perbaikan dan kelanjutan dari siklus I. Penelitan pada siklus II berlangsung pada tanggal 8 desember 2012 diawali dengan tahap perencanaan, observasi, evaluasi dan refleksi. Berikut akan diuraikan pelaksanaan penelitian siklus II.

Perencanaan penelitian siklus II tidak jauh beda dengan siklus I. Pada tahap perencanaan ini juga dilakukan persiapan seperti membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), menyiapkan lembar observasi aktivitas siswa dan guru, menyiapkan lembar diskusi siswa (LDS), dan menyiapkan tes evaluasi (tes hasil belajar)

b)   Pelaksanaan

Pada siklus II ini diusahakan perbaikan-perbaikan terhadap kegiatan belajar-mengajar sebelumnya berdasarkan hasil observasi. Materi yang diajarkan pada siklus II ini adalah tentang campuran. Siklus ke II ini dilaksanakan sama seperti siklus I yaitu satu kali pertemuan.

c)    Observasi dan evaluasi

1)        Hasil observasi aktivitas siswa

Berdasarkan kriteria penggolongan aktivitas siswa yang telah diobservasi secara kelompok pada siklus I sebesar 14 dan berkategori sangat aktif.

2)        Hasil observasi aktivitas guru

Hasil observasi diperoleh dari pengamatan yang dilakukan oleh guru sejawat (pendamping) dengan mengisi lembar observasi yang telah dipersiapkan. Semua aktivitas guru yang nampak diberi tanda rumput dalam lembar observasi. Adapun hasil yang diperoleh yaitu aktivitas guru berada diinterval 7-6 yang tergolong dalam kategori sangat baik.

3)        Hasil evaluasi belajar siswa

Berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilaksanakan diperoleh data seperti pada tabel berikut ini :

Tabel 1.2 Nilai Hasil Evaluasi Siswa Siklus II

No

Nama Siswa

Jumlah

Skor

Keterangan

Tuntas

Tidak

1

Amril Rahmat Rahim

70

2

Dedi Supriadi

70

3

Dendi Putrawan

90

4

Dodik Krismon

60

5

Erwin

70

6

Erwin Pradana

75

7

Esi Yusmita

70

8

Fedri Haduanto

55

9

Gito Saputra

70

10

Hendi Hariawan

58

11

Heri Efendi

68

12

Heri Satri Sukma

76

13

Ikawati

70

14

Irawan Wahyudi

80

15

Juhaeni

75

16

Jumadil Akhir

80

17

Lili Rahayu Septiana

70

18

Megawati

75

19

Muniati

70

20

Pandi Hardianto

79

21

Pina Handayani

70

22

Pipin Nopia

70

23

Sahrul Nizam Al-Fazani

68

24

Silvia Haerani

80

25

Tarmizi

70

26

Tomi Arizona

71

27

Yanti Temarwut

69

28

Yogi Komala Tobing

78

29

Zohri

80

Jumlah

2087

25

3

Rata-rata Nila

71,96

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa hasil evaluasi belajar siswa diperoleh rata-rata nilai sebesar 71,96. Dari 29 siswa Pada siklus II ini terdapat 25 siswa yang tuntas dan 3 siswa tidak tuntas. Sehingga ketuntasan klasikal diperoleh 86,20%. Karena ketuntasan klasikal tercapai apabila banyaknya siswa yang tuntas ≥ 85%, maka pada siklus II ini ketuntasan klasikal sudah tercapai.

d)   Refleksi

Hasil yang diperoleh pada siklus II rata-rata persentase aktivitas belajar siswa sebesar 71,96 dan persentase ketuntasan klasikal sebesar 86,20%.

Dari hasil penelitian siklus II dapat disimpulkan terdapat peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada materi campuran.

Dari tindakan siklus II dapat diketahui bahwa target yang telah ditetapkan dalam kurikulum telah tercapai yaitu 85% siswa yang mendapat ≥ 65. Dengan demikian maka siklus berikutnya tidak dilaksanakan.

  1. B.       Pembahasan

Analisis hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil analisis diatas, persentase ketuntasan belajar siswa siklus I sebesar 72,41% dengan nilai rata-rata sebesar 62,58 dan aktivitas siswa sebesar 12 yang berkategori aktif.

Menurut target kurikulum bahwa proses belajar siswa dikatakan berhasil apabila ketuntasan belajar siswa minimal 85%. Berdasarkan hal tersebut, maka hasil belajar siswa pada siklus pertama belum dikatakan memenuhi target kurikulum. Ini berarti bahwa apa yang dicapai pada siklus I, baik dilihat dari hasil belajar dan aktifitas siswa belum mencapai target yang ditetapkan.

Hal yang menyebabkan tindakan pada siklus pertama belum mencapai ketuntasan belajar adalah siswa belum terbiasa dan belum mempunyai pengalaman tentang metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Masih terdapat siswa yang tampak pasif dalam mengikuti pembelajaran, dimana kurangnya kesadaran siswa dalam menjawab LDS dan siswa mengharapkan jawaban dari temannya. Kurangnya kemampuan guru dalam mengelola kelas dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, serta kurangnya komunikasi antarsiswa pada saat terjadi diskusi kelompok.

Berdasarkan refleksi terhadab pelaksanaan tindakan yang dilakukan pada siklus I, maka pada siklus II ketuntasan dicapai sebesar 86,208% dengan nilai rata-rata sebesar 71,96 dan aktivitas siswa sebesar 14 berkategori sangat aktif, ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada siklus II telah memenuhi target kurikulum.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas VII.C SMP Negeri 2 Gangga Tahun Pelajaran 2012/2013.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam pembelajaran PKn dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan persentase ketuntasan belajar pada siklus II di kelas VII.C SMP Negeri 2 Gangga Tahun Pelajaran 2012/2013.

Saran

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada penelitian ini, maka saran-saran yang disampaikan adalah:

  1. Dengan memperhatikan kelemahan-kelemahan pada pelaksanaan penelitian ini diharapkan bagi peneliti yang ingin meneliti lebih lanjut dapat meminimalisasi kelemahan-kelemahan tersebut agar hasil yang diperoleh lebih baik.
  2. Mengingat pada siklus II ketuntasan belajar sudah mencapai target kurikulum maka diharapkan adanya perhatian dan pengulangan dari guru bidang studi yang bersangkutan agar dapat memilih model atau metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajar.
  3. Kepada guru PKn SMP Negeri 2 Gangga dan guru PKn di sekolah lain diharapkan mengoptimalkan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw sebagai salah satu alternatif model atau metode pembelajaran.
  4. Kepada pembaca yang ingin meneliti lebih lanjut diharapkan dapat mencoba sehingga dapat menghasilkan hasil yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto, S dan suhardjono. 2009. Penelitian tindakan kelas. Jakarta: Bumi aksara

Depdiknas. 2005. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

Depdiknas. Buku teks Pendidikan Kewarganegaraan: untuk SMP dan MTs Kelas VII

Purwanto. 2011. Evaluasi hasil belajar.Yogyakarta: pustaka pelajar.

Bermawi, M. 2005. Strategi Pembelajaran Aktif. Jogyakarta.CTSD.

Imam, dkk. 2004. Bahasa Indonesia: Materi Pelatihan Terintegrasi Buku 2 (INA-10:

Pengembangan Keterampilan Berbicara.Jakarta: Depdiknas.

Johnson,B Elaine. 2008. Contextual Teaching  and Learning. Bandung: Mirza Media Utama.

Milan, Riyanto. 2002. Pendekatan dan Metode Pembelajaran Bahan Penataran untuk  

Instruktur. Malang: Proyek Peningkatan Mutu.

Oemar, Hamalik. 2003. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA.

Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Parera, Jos D. 1982. Belajar Mengemukakan Pendapat.Jakarta: Arlangga.

Tim. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta.

Wibowo, Basuki. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

Hasil PTK MGMP PKn SMP Kab. Lombok Utara Klpk. Wilayah Bayan 2012

 

 

 

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

PENINGKATAN  AKTIVITAS BELAJAR PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN PKN MELALUI MODEL MAKE – A MATCH  DI KELAS  VII.1 SMPN 2 BAYAN TAHUN 2012

 

I KETUT PUSPA, S.Pd., BAIQ RAUHIN, S.Pd., PUHALKI, S.Pd., HAMDAN YUSUF, S.Pd. MH

ISNOWO, S.Pd., ENDING NINGSIH, S.Pd DRIA SARI, S.Pd. SOPIAN HADI, S.Pd.

ABSTRAK: Pada proses belajar mengajar guru lebih mendominasi kelas, sedangkan siswa masih pasif. Aktivitas siswa terbatas pada mendengar, mencatat dan menjawab pertanyaan guru. Proses belajar mengajar seperti ini jelas membuat siswa tidak termotivasi untuk belajar dan beraktivitas. Untuk itu perlu diterapkan suatu model yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, salah satunya dengan menggunakan Model Make- A Match. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan Model Make- A Match  untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi siswa dan guru. Lembar observasi digunakan untuk mengumpulkan data mengenai aktivitas siswa dan aktivitas guru selama proses pembelajaran berlangsung. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa pada siklus I persentase aktivitas siswa sebesar 72 dengan kategori aktif, dan keterlaksanaan pembelajaran sebesar 87 % dengan kategori sangat aktif, sedangkan hasil penelitian pada siklus II bahwa aktivitas siswa sebesar 83 dengan kategori sangat aktif, dan keterlaksanaan pembelajaran sebesar 100 % dengan kategori sangat aktif, oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa penerapan Model Make- A Match  dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VII.1 SMP Negeri 2 Bayan Tahun Pelajaran 2012/2013.

Kata Kunci : Model Make- A Match  , Motivasi belajar siswa

Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan dimasa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya. Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi kompetensi peserta didik.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai hasil pembaruan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tersebut menghendaki, bahwa suatu pembelajaran pada dasarnya tidak hanya mempelajari tentang konsep, teori dan fakta tetapi juga aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian materi pembelajaran tidak hanya tersusun atas hal-hal sederhana yang bersifat hafalan dan pemahaman, tetapi juga tersusun atas materi yang kompleks yang memerlukan analisis, aplikasi dan sintesis. Untuk itu, guru harus bijaksana dalam dalam menentukan suatu model yang sesuai yang dapat menciptakan situasi dan kondisi kelas yang kondusif agar proses belajar mengajar dapat berlangsung sesuai dengan tujuan yang diharapkan. (Trianto, 2009; 1 dan 8)

Guru yang efektif memiliki karakteristik hubungan dengan peserta didik bersahabat, menjadi mitra belajar sambil menghibur peserta didik, menyayangi peserta didik seperti anaknya sendiri, adil, memahami kebutuhan setiap peserta didik serta beusaha memberikan yang terbaik untuk peserta didiknya dan mampou membantu anak didiknya menuju kedewasaan. (Marno dkk, 2008; 29)

Pembelajaran menunjuk pada proses belajar yang menempatkan peserta didik sebagai center stage perpormance. Pembelajaran lebih menekankan bahwa peserta didik sebagai mahluk berkesadaran memahami arti penting interaksi dirinya dengan lingkungan yang menghasilkan pengalaman adalah kebutuhan. Kebutuhan baginya mengembangkan seluruh potensi kemanusiaan yang dimilikinya. Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang menyenangkan yaitu pembelajaran dengan suasana socio emotional climate positif. Peserta didik merasakan bahwa proses belajar yang dialaminya bukan sebuah derita yang mendera dirinya, melainkan berkah yang harus disyukurinya. Belajar bukanlah tekanan jiwa pada dirinya, namun merupakan panggilan jiwa yang harus ditunaikannya. Pembelajaran menyenangkan menjadikan peserta didik ikhlas menjalaninya. (Agus Sufrijono, 2009; 9)

Berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya siswa SMP kelas VII menunjukkan sikap kurang bergairah, kurang aktif, kelas kurang berpusat pada siswa dan kadang-kadang ada yang bermain sendiri di dalam kelas. Siswa yang aktif dalam pembelajaran sekitar 60%. Ini merupakan masalah yang dihadapi pada mata pelajaran PKn. Kondisi yang seperti ini  tentunya sangat tidak diharapkan  dalam proses belajar mengajar.

Sebenarnya guru telah berusaha menciptakan pembelajaran agar siswa lebih aktif, diantaranya: pengamatan objek langsung, diskusi kelompok mengerjakan LKS , menggunakan media yang ada di sekolah, dan mengunakan metode tanya-jawab. Namun hasilnya belum dapat meningkatkan gairah dan aktivitas secara maksimal.

Jika kondisi yang seperti ini tidak dicarikan alternatif pemecahan masalahnya, maka guru tetap sebagai sumber informasi satu-satunya dikelas, tidak ada tukar informasi, penguasaan konsep dan hasil belajar biologi siswa tetap  rendah, dan pembelajaran biologi jadi membosankan.

Penelitian tindakan kelas ini betujuan untuk mengetahui penggunaan Model Make- A Match  untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran PKn di kelas VII.1 SMPN 2 Bayan Tahun Pelajaran 2012/2013.

Motivasi adalah “keadaan dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan” (soeharto dkk,2003:110). Dalam buku psikologi pendidikan Drs. M. Dalyono memaparkan bahwa “motivasi adalah daya penggerak /pendorong untuk melakukan sesuatu pekerjaan,yang bisa berasal dari dalam diri atau juga dari luar’ (http;//www. Sarjanaku.com)/(Dalyono, 2005)

Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Adanya motifasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Intensitas motifasi seorang peserta didik akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya (Serdiman, 2011; halaman 85).

  1. Belajar dalam arti luas dapat diartikan sebagai suatu proses yang memungkinkan timbulnya atau berubahnya suatu tingkah laku sebagai hasil dari terbentuknya respon utama,dengan sarat bahwa perubahan atau munculnya tingkah laku baru itu bukan disebabkan oleh adanya kematangan atau oleh adanya perubahan sementara oleh suatu hal (http;//www. Sarjanaku.com)/(Nasution,dkk; 1992;3) dengan demikian motivasi dalam proses pembelajaran sangat dibutuhkan untuk terjadinya percepatan dalam mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran secara khusus. Salah satu upaya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam mengikuti pelajaran PKn diantaranya kita menggunakan Model Make- A Match

Model Pembelajaran Make – A Match / mencari pasangan (Lorna Curran, 1994)

Langkah-langkah :

  1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban
  2. Setiap siswa mendapat satu buah kartu
  3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang
  4. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban)
  5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin
  6. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
  7. Demikian seterusnya
  8. Kesimpulan/penutup

Melalui model pembelajaran Make – A Match pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan dapat mengetahui peningkatan aktivitas peserta didik dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII.1 SMPN 2 Bayan.

METODE  PENELITIAN

Subyek penelitian adalahsiswa kelas VII.1 SMPN 2 Bayan dengan jumlah siswa 40 orang,  jumlah laki-laki 19 orang dan perempuan 21 orang. Rancangan penelitian adalah penelitian indakan kelas atau Classroom based action research. Penelitian terdiri atas dua siklus.Siklus I dilaksanakan pada 5 November 2012 danSiklus II padatanggal 8 Desember 2012.Masing-masing siklus melalui tahap perencanaan tindakan, pelaksanaantindakan, observasi, danrefleksi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

  1. A.  HASIL PENELITIAN

 

  1. Data Hasil Penelitan

Data yang sudah dikumpulkan kemudian disajikan dalam bentuk tabel.

Adapun data tersebut disajikan pada tabel berikut :

Tabel 1.1 Keterlaksanaan Pembelajaran

Siklus

Skor

Terlaksana

Tidak Terlaksana

 I (pertama)

7

1

II (kedua)

8

0

Tabel 1.2 Motivasi Siswa

Siklus

Skor

Motivasi

 Tidak Termotivasi

 I (pertama)

13

5

II (kedua)

15

3

  1. Analisis Data

Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan diperoleh hasil rata-rata persentase keterlaksanaan pembelajaran yaitu 87% pada sikus I dan 100% pada siklus II. Sedangkan nilai pengamatan motivasi siswa yaitu 72,2 pada siklus I dan 83,3 pada siklus II. Dilihat dari persentase keterlaksanan pembelajaran dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dapat dinyatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan Melalui model pembelajaran Make – A Match pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan dapat mengetahui peningkatan aktivitas peserta didik dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII.1 SMPN 2 Bayan.

Melalui model pembelajaran Make – A Match pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan dapat mengetahui peningkatan aktivitas peserta didik dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII.1 SMPN 2 Bayan.

Dengan  Make – A Match berhasil meningkatkan motivasi belajar siswa.

Untuk analisis data guna mengetahui keberhasilan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Make – A Match pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan dapat mengetahui peningkatan aktivitas peserta didik dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII.1 SMPN 2 Bayan.

Data dianalisis dengan rumus sebagai berikut :

  1.  Analisis Data Pengamatan terhadap Guru

Jumlah langkah KBM terlaksana

%Keterlaksanaan =   ___________________________ X 100%

                                 Jumlah langkah KBM dalam RPP

Hasil perhitungan data pada siklus I

% keterlaksanaan

 

= 87%

Hasil perhitungan data pada siklus II

% keterlaksanaan =

= 100%

  1. Analisis data pengamatan terhadap siswa

                                       Jp

           S            =  _____________ x  100

                                   Skor maksimal

Hasil perhitungan data pada siklus I

S  =

                                             = 72,2

Hasil perhitungan data pada siklus I

S =

                                           = 83,3

 

 

  1. B.       PEMBAHASAN

 

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan, maka dapat dijelaskan bahwa pembelajaran menggunakan Melalui model pembelajaran Make–A Match pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan dapat mengetahui peningkatan aktivitas peserta didik dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII.1 SMPN 2 Bayan.

meningkatkan motivasi belajar siswa.

Pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan tanpa inovasi dapat membuat siswa merasa jenuh dan tidak aktif. Hal ini terlihat dari sikap dan prilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung, seperti peserta didik mengantuk, mengganggu teman, berbicara dengan teman, mencoret –coret buku atau meja, menggambar di buku catatan dan kegiatan lain selain belajar.

Dalam proses pembelajaran seharusnya siswa bersikap semangat, rasa ingin tahu tinggi, berperan aktif dan gembira. Hal ini dapat menunjukkan motivasi yang tinggi dalam proses belajar.

Motivasi merupakan keadaan dalam diri seseorang dalam diri seseorang    yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan guna mencapai suatu tujuan. Motivasi dalam proses pembelajaran sangat dibutuhkan untuk terjadinya percepatan dalam mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran.

Penelitian ini menggunakan Melalui model pembelajaran Make – A Match pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan dapat mengetahui peningkatan aktivitas peserta didik dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII.1 SMPN 2 Bayan.

. Pembelajaran Make – A Match terdiri dari lima  komponen utama, yaitu pembentukan kelompok, penyajian kelas, kegiatan kelompok, pemberian Kartu, dan penghargaan kelompok. Adapun pelaksanaannya dilakukan dalam dua siklus dengan materi pelajaran tentang Makna Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi yang pertama. Pengamatan dilakukan terhadap keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan keefektifan penggunaan Melalui model pembelajaran Make – A Match pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan dapat mengetahui peningkatan aktivitas peserta didik dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII.1 SMPN 2 Bayan.

Pada siklus pertama, materi yang dijelaskan yaitu mengenai Makna Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi yang pertama. Jumlah siswa kelas VII.1. yaitu 35 orang. Pada pelaksanaan pembelajaran pada siklus ini, ada beberapa kekurangan dalam keterlaksanaan pembelajaran dan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar. Pada keterlaksanaan pembelajaran guru membagi kelompok cukup besar yakni terdiri dari 6 orang siswa, sedangkan pada model Make – A Match  ini anggota  kelompok diharapkan lebih kecil antara 4-5 orang siswa sehingga pada saat diskusi anggota kelompok lebih terfokus dan mengurangi waktu untuk bermain. Kemudian pada pemberian tugas untuk diskusi kelompok, guru belum memberikan alokasi waktu dalam mengerjakan tugas tersebut, sehingga ada siswa yang santai dalam mengerjakannya. Saat pemberian kuis guru mengajukan pertanyaan dengan menunjuk siswa tertentu untuk menjawab, sehingga siswa yang lain tidak memiliki kesempatan untuk menjawab pertanyaan. Diharapkan pertanyaan yang diberikan ditujukan untuk seluruh siswa sehingga siswa diajak untuk berfikir bersama dalam menjawab pertanyaan tersebut.

Pada pengamatan terhadap siswa, pada umumnya siswa sudah aktif dalam proses belajar mengajar namun ada beberapa siswa yang malu untuk bertanya. Berdasarkan uraian diatas diperoleh persentase keterlaksanaan pembelajaran oleh guru sebesar 87 % sedangkan sebanyak 72,2 siswa sudah termotivasi dengan baik dalam belajar dari persentase yang diharapkan sebesar 75%. Kekurangan  yang terjadi pada siklus pertama diharapkan dapat diperbaiki pada siklus kedua.

Pada siklus II, materi yang disampaikan merupakan  lanjutan dari materi sebelumnya yakni mengenai Makna Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi yang pertama. Kegiatan  pembelajaran terlaksana  dengan baik dan lancar. Siswa terlihat sangat bersemangat dalam mengikuti kegiatan pelajaran. Kekurangan yang terjadi di siklus 1 sudah dapat diperbaiki antara lain pembagian kelompok sudah lebih kecil yaitu tiap kelompok  terdiri dari 4-5 orang siswa dengan jumlah kelompok seluruhnya, yaitu 8 kelompok. Dalam pemberian tugas diskusi kelompok guru sudah memberi alokasi waktu dalam mengerjakan tugas sehingga siswa lebih termotivasi dalam mengerjakannya. Guru juga sudah memberikan pertanyaan keseluruh siswa sehingga setiap siswa memiliki kesempatan untuk menjawab. Namun pada siklus ini pembagian tugas dimasing-masing anggota kelompok belum terlaksana dengan baik dan guru juga diharapkan memberi nama dimasing-masing kelompok sesuai dengan materi yang disampaikan sehingga menjadi daya tarik dan motivasi bagi siswa dalam mengikuti pelajaran. Guru juga memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki skor tertinggi dalam menjawab kuis berupa pensil boneka , sehingga hal ini dapat memotivasi siswa dalam menjawab pertanyaan.

Dalam keterlaksanaan pembelajaran oleh guru diperoleh persentase sebesar 100 % sehingga dapat dikatakan guru sudah berhasil dalam melaksanakan pembelajaran dengan model Make – A Match  dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di kelas VII.1 dengan persentase sebesar 83,3 sehingga mengalami peningkatan dari siklus pertama dengan kategori siswa angat termotivasi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

SIMPULAN DAN SARAN

SIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:

  1.  Keterlaksanaan pembelajaran pada siklus 1 mencapai 87% sedangkan pada siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 100% dan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran pada siklus 1 sebesar 72,2 dengan kategori termotivasi dengan baik sedangkan pada siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 83,3 dengan kategori sangat termotivasi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
  2. Penggunaan Make – A Match  dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran PKn di kelas VII.1 SMPN 2 Bayan Tahun Pelajaran 2012/2013.

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dicapai dalam penelitian ini maka saran yang dapat diberikan adalah  diharapkan pada guru PKn untuk menerapkan Make – A Match  pada pokok bahasan yang lain dan kelas yang berbeda sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan variasi guru dalam mengajar lebih inovatif.

DAFTAR PUSTAKA

Bermawi, M. 2005. Strategi Pembelajaran Aktif. Jogyakarta.CTSD.

Imam, dkk. 2004. Bahasa Indonesia: Materi Pelatihan Terintegrasi Buku 2 (INA-10: Pengembangan Keterampilan Berbicara.Jakarta: Depdiknas.

Johnson,B Elaine. 2008. Contextual Teaching  and Learning. Bandung: Mirza Media Utama.

Milan, Riyanto. 2002. Pendekatan dan Metode Pembelajaran Bahan Penataran untuk Instruktur. Malang: Proyek Peningkatan Mutu.

Oemar, Hamalik. 2003. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Parera, Jos D. 1982. Belajar Mengemukakan Pendapat.Jakarta: Arlangga.

Tim. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta.

Wibowo, Basuki. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

Hasil PTK MGMP PKn SMP Kab. Lombok Utara Klpk. Wilayah Tanjung 2012

 

UPAYA  PENINGKATAN MOTIVASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN PKn

DENGAN   MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN  KOOFERATIF LEANING TIFE  JIGSAW ,KELAS VII  SEMESTER  1 SMPN 1 TANJUNG TAHUN PELAJARAN 2012 /2013.

 

ISMAIL MUJI, SPd. SITI MA’ANI, S.Pd. EKA SUSIANTI, S.Pd. Bq. SUSIANI, S.Pd. Dra. Bq. HURMAYATI MUFTY KAMIL, S.Pd. NI NYM.  SUKARMINI, S,Pd. I NI AYU DESNI WATI, S.Pd. NI LUH TESI, S.Pd. EVI SUSILAWATI, S.Pd. HAITUL MASNAWATI, S.Pd. YUYUN RAUFIANI, S.Pd.

 

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah penerapan model pembelajaran  Kooferatif Leaning Tife  Jigsaw  efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VII di SMPN 1 Tanjung  Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas.  Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan November 2012 sampai dengan Desember 2012, dilaksanakan dalam dua siklus dengan subjek penelitian siswa kelas VII.5 SMP Negeri Tanjung, Tahun Pelajaran 2012/2013 yang terdiri dari 36 orang siswa. Pencapaian siklus  I dengan nilai rata-rata aktivitas siswa () sebesar 12,6 (kategori cukup aktif). Pencapain siklus II dengan nilai rata-rata aktifitas siswa  () sebesar 15,4 (kategori aktif).  sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan Model Pembelajaran Kooferatif Leaning Tife  Jigsaw mampu meningkatkan Aktivitas siswa dalam pembelajaran PKn di kelas VII. 5 SMPN 1 Tanjung semester 1 Tahun Pelajaran 2012/2013.

Kata kunci : CooperativeLearning, Kepala Bernomor Struktur,Motivasi.

 

Sebagai mahluk sosial, manusia memerlukan pendidikan guna pengembangan potensi diri melalui proses pembelajaran agar eksistensinya diakui oleh masyarakat. berdasarkan undang –undang System Pendidikan Nasional Repuplik Indonesia no. 20 tahun 2003 bertujuan mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta  yang bertanggung jawab.

Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional,guru mempunyai peranan yang sangat penting. Tugas seorang guru tidak hanya memberikan pengetahuan kepada peserta didik tetapi lebih jauh dari itu juga turut membentuk pribadi anak agar menjadi manusia pembangunan sesuai dengan falsafah pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Kedudukan seorang guru dalam dunia pendidikan begitu penting maka guru dibekali dengan segenap ilmu pengetahuan dan keterampilan yang memadai agar mampu melaksanakan tugas dan tanggunggung jawab sehingga dapat berhasil dengan baik, namun semuanya itu belum memadai sebagai bekal bagi guru yang professional dan berkualitas tinggi. Salah satu bekal yang tidak kalah pentingnya adalah pengalaman guru dalam mengajar serta menentukan metode Pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan disajikan.

Dalam mengajarkan bidang studi PKn di butuhkan strategi belajar mengajar yang dilengkapi dengan metode pembelajaran yang sesuai dan hendaknya tidak terpaku pada satu jenis metode saja, tetapi harus menggunakan metode yang bervariasi agar jalannya proses belajar mengajar tidak membosankan dan tetap menarik perhatian peserta didik sehingga peserta didik termotivasi untuk belajar.

Berdasarkan pendapat di atas, untuk memeberikan kesempatan kepada peserta didik belajar lebih aktif, partisipatif dalam proses belajar mengajar serta mampu berinteraksi satu sama lain diperlukan strategi dan metode pembelajaran yang tepat oleh guru. Salah satu bentuk metode pembelajaran yang bersifat inovatif adalah penggunaan Model Pembelajaran Kooferatif Leaning Tife  Jigsaw Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui apakah penerapan  Model Pembelajaran Kooferatif Leaning Tife  Jigsaw mampu meningkatkan Aktivitas siswa dalam pembelajaran PKn di Kelas VII.5  Semester 1 SMP Negeri 1 Tanjung Tahun Pelajaran 2012/2013.

Model Pembelajaran Kooferatif Leaning Tife  Jigsaw adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif di mana pembelajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa yang bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mendapatkan pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Pada pembelajaran tipe Jigsaw ini setiap siswa menjadi anggota dari 2 kelompok, yaitu anggota kelompok asal dan anggota kelompok ahli. Anggota kelompok asal terdiri dari 3-5 siswa yang setiap anggotanya diberi nomor kepala 1-5. Nomor kepala yang sama pada kelompok asal berkumpul pada suatu kelompok yang disebut kelompok ahli.

Hasil belajar merupakan pencapaian tujuan pendidikan pada siswa yang mengikuti proses belajar mengajar. Hasil belajar perlu dievaluasi. Evaluasi dimaksudkan sebagai cermin untuk melihat kembali apakah tujuan yang ditetapkan telah tercapai dan apakah proses belajar mengajar telah berlangsung efektif untuk memperoleh hasil belajar.

.

Menurut Suprijono (2009), terdapat ragam metode dalam model pembelajaran kooperatif, diantaranya metode  jigsaw, metode think-pair-share, metode numbered  head together, metode two stay two stray, metode make a match, metode listening team, metode bamboo dancing, metode kepala bernomor struktur, metode the power of  two, serta masih banyak lagi metode pendukung lainnya.

Model Pembelajaran Kooferatif Leaning Tife  Jigsaw adalah suatu Model pembelajaran yang lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas (Rahayu, 2006). Tife  Jigsaw adalah bagian dari model pembelajaran kooperatif struktural, yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur Kagan menghendaki agar para siswa bekerja saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif.

Struktur tersebut dikembangkan sebagai bahan alternatif dari struktur kelas tradisional seperti mangacungkan tangan terlebih dahulu untuk kemudian ditunjuk oleh guru untuk menjawab pertanyaan yang telah dilontarkan. Suasana seperti ini menimbulkan kegaduhan dalam kelas, karena para siswa saling berebut dalam mendapatkan kesempatan untuk menjawab pertanyaan peneliti (Tryana, 2008). Menurut Kagan (2007) Model Pembelajaran Kooferatif Leaning Tife  Jigsaw ini secara tidak langsung melatih siswa untuk saling berbagi informasi, mendengarkan dengan cermat serta berbicara dengan penuh perhitungan, sehingga siswa lebih produktif dalam pembelajaran.

Istilah kata motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Motif tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat diinterpretasikan dalam tingkah laku tertentu (Hamzah, 2006: 3).

“Motivasi merupakan keseluruhan daya penggerak di dalam peserta didik yang dapat menimbulkan kegiatan belajar menjamin kelangsungan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga rujuan belajar dapat tercapai” (Sardiman A.M, 1996: 74).Hamzah B. Uno (2007: 1) mendefinisikan motivasi sebagai dorongan besar dalam diri seseorang yang dapat menggerakkan tingkah laku sehingga melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Menurut Slameto (2003: 55), “motivasi belajar adalah faktor kejiwaan yang berasal dari dalam diri seseorang yang tidak bersifat intelektual (non intelektual), yang memiliki peranan khusus dalam membangkitkan gairah, mendorong semangat, rasa nyaman, senang, dan rindu untuk belajar”. Sedangkan menurut Dimyati, dkk (2006: 238), “Motivasi Belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar”.

Motivasi belajar pada diri peserta didik dapat menjadi lemah apabila kondisinya tidak kondusif. Lemahnya atau tiadanya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan belajar. Selanjutnya mutu hasil belajar akan menjadi rendah. Oleh karena itu, motivasi belajar pada diri peserta didik perlu diperkuat terus menerus. Agar peserta didik memiliki motivasi belajar yang kuat pada tempatnya diciptakan suasana belajar yang menggembirakan. Motivasi merupakan bagian dari belajar. Peserta didik akan berusaha sekuat tenaga apabila dia memiliki motivasi yang besar untuk mencapai tujuan belajar. Peserta didik akan belajar dengan sungguh-sungguh tanpa dipaksa apabila memiliki motivasi yang besar, dengan demikian diharapkan akan mencapai prestasi yang tinggi. Ini berarti, apapun tindakan yang dilakukan seseorang selalu ada motif tertentu sebagai dorongan dia melakukan tindakannya itu.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah motivasi belajar adalah faktor kejiwaan yang berasal dari dalam diri seseorang yang tidak bersifat intelektual (non intelektual), dan memiliki peranan khusus dalam mendorong semangat untuk belajar.

Motivasi sangat berperan dalam belajar, peserta didik yang dalam proses belajar mempunyai motivasi yang kuat dan jelas pasti akan tekun dan berhasil belajarnya. Makin tepat motivasi yang diberikan, makin berhasil pelajaran itu.

Motivasi akan senantiasa menenutkan intensitas usaha belajar bagi peserta didik. Adapun fungsi motivasi menurut Sardiman (1996: 84) ada tiga yaitu: (1) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi,(2)  Menentukan arah perbuatan yakni kearah tujuan yang hendak dicapai, (3) Menyeleksi perbuatan yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dijalankan yang serasi guna mencapai tujuan itu dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Oemar Hamalik (2007: 108) mengemukakan ada 3 fungsi motivasi. Fungsi-fungsi tersebut adalah sebagai pendorong timbulnya suatu tingkah laku atau perbuatan, motivasi berfungsi sebagai pengarah dan motivasi berfungsi sebagai penggerak. Sedangkan menurut Fidelis E . Waruwu (2006: 25) fungsi-fungsi motivasi antara lain untuk memulai, mengarahkan, menyokong dan membuat seseorang sensitif dalam belajar sehingga apabila motivasi belajar tumbuh maka peserta didik akan melakukan kegiatan belajar dengan senang maka prestasi belajarnya akan tercapai.

Dapat disimpulkan bahwa motivasi mempunyai beberapa fungsi yang sangat penting dalam suatu kegiatan belajar. Fungsi-fungsi tersebut adalah sebagai penggerak tingkah laku, sebagai arah untuk mencapai tujuan, sebagai penyaring dan sebagai penyokong agar peserta didik lebih menikmati belajar.

Dari pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa besarnya motivasi berprestasi yang ada pada diri seseorang akan tercermin pada tingkahlakunya. Seseorang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan mempunyai beberapa ciri yang membedakan dirinya bila dibandingkan dengan seseorang yang memiliki motivasi berprestasi yang rendah.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitin tindakan kelas (Classroom Action Research) yang merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru  dengan tujuan untuk memperbaiki hasil kerjanya (Arikunto, 2008).Subjek penelitian  ini adalah siswa kelas VII.5 SMP Negeri 1 Tanjung , Semester 1 Tahun Pelajaran 2012 / 2013  yang terdiri dari 36 orang siswa. Objek penelitian ini adalah : 1) Motivasi  belajar  siswa dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooferatif Leaning Tife  Jigsaw pada materi Makna Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi yang Pertama, 2) Aktivitas guru sebagai pengajar.Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan November 2012  sampai dengan bulan Desember 2012.Penelitian ini  telah dilakukan di SMP Negeri 1 Tanjung pada Siswa kelas VII.5 semester 1 Tahun Pelajaran 2012 / 2013. Penelitian ini   dilaksanakan dalam dua siklus setelah tercapai indikator kerja. Setiap siklus dilaksanakan dalam empat tahap yaitu : perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.

Adapun alur penelitian tindakan kelas ini  dapat dilihat pada Gambar 3.1 sebagai berikut.

Gambar 3.1 :   Alur Penelitian Tindakan Kelas Yang Telah  dilakukan

HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN

A. Hasil  Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa  kelas VII.5 SMP Negeri 1 Tanjung tahun pelajaran 2012/2013  pada materi Makna Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi yang Pertama dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooferatif Leaning Tife  Jigsaw

Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus penelitian. Tiap siklus memiliki tahapan yaitu :Perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/observasi, dan refleksi. Data motivasi belajar siswa siklus I  dan  siklus II pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut ini :

Tabel 4.1  Data Hasil Observasi siswa

No

Data

Siklus

I

II

1

Aktivitas Belajar siswa  (X)

12,6

15,4

Kategori

Cukup Aktif

Aktif

Aktivitas belajar siswa tiap siklus dapat dilihat dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar 4.2 berikut :

B.  Pembahasan

kelas VII.5 memiliki permasalahan dalam  motivasi belajar . Hal ini kemudian didiskusikan dengan guru bidang studi (guru senior) . Dari hasil diskusi disimpulkan bahwa kelas VII.5 perlu mengalami pembelajaran yang baru dengan metode yang baru. Untuk itu dibentuklah kelompok pembelajaran. Selain  kemampuan awal siswa, pembentukan kelompok juga berpengaruh terhadap kemampuan siswa sehingga pembuatan kelompok didasarkan pada jenis kelamin, keragaman agama, dan suku bangsa mereka.

Hal tersebut  bertujuan untuk mendekatkan siswa yang satu dengan lainnya agar mereka bisa saling membantu satu dengan lainnya dalam proses pembelajaran, dimana siswa yang berkemampuan lebih dapat membantu siswa lain yang berkemampuan kurang. Dari penelitian ini didapat hasil dari dua siklus adalah sebagai berikut :

Siklus I

Pada sikus I didapati jumlah siswa yang hadir adalah sebanyak 30 Orang siswa/ siswi. Dari hasil analisis data obserfasi siswa didapat bahwa rata-rata nilai untuk aktifitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan metode kepala bernomor struktur adalah sebesar 12, 6 (dengan kategori aktif).

Akan tetapi pada siklus I terdapat beberapa kekurangan diantaranya masih kurangnya siswa dalam bertanya, serta masih terdapat beberapa siswa yang masih asyik dengan kegiatan sendiri (tidak konsentrasi dengan pelajaran). Selain itu pada siklus ini guru dalam mengajar masih belum sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun diantaranya guru lupa menggali motifasi dan pengetahuan awal siswa pada sesi awal pembelajaran.

SiklusII

Pada siklus II didapat jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran adalah 31 orang siswa. Dari hasil analisis data obserfasi siswa didapat bahwa rata-rata nilai untuk aktifitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan metode kepala bernomor struktur adalah sebesar 15,4 (dengan kategori aktif). Pada siklus II, berdasarkan hasil pengamatan pada kegiatan guru mengajar, didapati dari hasil pengamatan bahwa guru telah mengajar sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun. Hal ini nampak dari lembar obserfasi guru dimana semua indikator aktifitas guru telah nampak.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan  data hasil penelitian dan pembahasan  dapat disimpulkan bahwa motivasi siswa mengalami peningkatan dalam mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode kepala bernomor struktur yakni dari pencapaian siklus I sebesar 12,6 menjadi 15,4 pada siklus II. Berdasarkan hasil yang didapat tersebut maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran menggunakan metode kepala bernomor struktur mampu meningkatkan motivasi belajar siswa.

Saran

Beberapa saran yang penulis berikan antara lain :

  1. Diharapkan adanya penelitian lanjutan tetang metode kepala bernomorr struktur pada pokok bahasan yang lain sehingga didapatkan data lainnya sebagai masukan bagi para pengajar untuk mempertimbangkan penggunaan kepala bernomor struktur.
  2. Bagi para guru serta peneliti lainnya diharapkan lebih kreatif dan variatif dalam menggunakan metode pembelajaran serta menyesuaikan materi yang hendak diajarkan dengan metode yang hendak digunakan sehingga siswa tidak bosan dan tujuan pembelajaran yang diharapkan tercapai.

DAFTAR  PUSTAKA

Anonim. 2002. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta : Depdiknas Ditjen Dikdasmen.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

————————..2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Dalyono, M.. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Djamarah, Syaiful Bahri.2006. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, Suatu Pendekatan Teoritis Psikologis. Jakarta : Rineka Cipta.

Djamarah, Syaiful Bahri.1994. Prestasi Belajar dan Kompetesi Guru. Surabaya : Usaha Nasional

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain.2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Fathurrohman, Pupuh dan M. Sobry Sutikno. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : PT. Rineka cipta.

Isjoni. 2009. Cooperative Learning: Efektifitas Pembelajaran Kelompok. Bandung : Alfabeta.

Muslich, Mansur. 2007. KTSP:Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta : Bumi Aksara.

Nurkencana dan Sunartana. 1992. Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Usaha Nasional.

Sagala, Syaiful H. 2008. Konsep dan Makna Pembelajaran. Jakarta :  PT. Rineka Cipta.

Sudijono, Anas. 2009. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Sudjana, Nana. 2002. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru.

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning: Teori & Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto, S dan suhardjono. 2009. Penelitian tindakan kelas. Jakarta: Bumi aksara

Depdiknas. 2005. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

Depdiknas. Buku teks Pendidikan Kewarganegaraan: untuk SMP dan MTs Kelas VII

Purwanto. 2011. Evaluasi hasil belajar.Yogyakarta: pustaka pelajar.

Bermawi, M. 2005. Strategi Pembelajaran Aktif. Jogyakarta.CTSD.

Imam, dkk. 2004. Bahasa Indonesia: Materi Pelatihan Terintegrasi Buku 2 (INA-10:

Pengembangan Keterampilan Berbicara.Jakarta: Depdiknas.

Johnson,B Elaine. 2008. Contextual Teaching  and Learning. Bandung: Mirza Media Utama.

Milan, Riyanto. 2002. Pendekatan dan Metode Pembelajaran Bahan Penataran untuk  

Instruktur. Malang: Proyek Peningkatan Mutu.

Oemar, Hamalik. 2003. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA.

Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Parera, Jos D. 1982. Belajar Mengemukakan Pendapat.Jakarta: Arlangga.

Tim. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta.

Wibowo, Basuki. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s