FOTO KEGIATAN MGMP PKn SMP KLU TAHUN 2012

FOTO KEGIATAN MGMP PKn SMP KLU TAHUN 2012

Iklan

MATERI HASIL KEGIATAN MGMP PKn SMP KLU PENGEMBANGAN KARIR PTK DIKDAS TAHUN 2012

 

 KEGIATAN WORKSHOP PENGEMBANGAN KARIR PTK DIKDAS

MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN (MGMP) PKn SMP

KABUPATEN LOMBOK UTARA

TAHUN 2012

        

 

                                                                    

 MGMP PKn SMP
 LOMBOK UTARA

 

 

DINAS PENDIDIKAN KEBUDAYAAN PEMUDA DAN OLAH RAGA

MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN (MGMP)

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKn) SMP

KABUPATEN LOMBOK UTARA

 

2012

PENGEMBANGAN KARIR PTK DIKDAS

 (Pengembangan diri, Publikasi Ilmiah dan Karya Inovatif )

A. PENGEMBANGAN DIRI

Pengembangan diri adalah upaya-upaya untuk meningkatkan profesionalisme diri agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan agar mampu melaksanakan tugas pokok dan kewajibannya dalam pembelajaran/pembimbingan termasuk pelaksanaan tugas-tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/ madrasah. Kegiatan pengembangan diri terdiri dari diklat fungsional dan kegiatan kolektif guru untuk mencapai dan/atau meningkatkan kompetensi profesi guru yang mencakup kompetensi pedagogis, kepribadian, sosial, dan profesional sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Diklat fungsional adalah kegiatan guru dalam mengikuti pendidikan atau latihan yang bertujuan untuk mencapai standar kompetensi profesi yang ditetapkan dan/atau meningkatkan keprofesian untuk memiliki kompetensi di atas standar kompetensi profesi dalam kurun waktu tertentu, seperti kursus, pelatihan, penataran, atau bentuk diklat lainnya.Sedangkan kegiatan kolektif guru adalah kegiatan guru dalam mengikuti kegiatan pertemuan ilmiah atau kegiatan bersama yang bertujuan untuk mencapai standar atau di atas standar kompetensi profesi yang telah ditetapkan. Kegiatan kolektif guru mencakup : 1)    kegiatan lokakarya atau kegiatan kelompok guru (KKG, MGMP, KKKS, MKKS, KKPS, dan MKPS) atau in house training untuk penyusunan perangkat kurikulum dan/atau kegiatan pembelajaran berbasis TIK, penilaian, pengembangan media pembelajaran, dan/atau kegiatan lainnya untuk kegiatan PKB guru; 2)    menjadi pembahas atau peserta pada seminar, koloqium, diskusi pannel atau bentuk pertemuan ilmiah yang lain; dan 3)    kegiatan kolektif lain yang sesuai dengan tugas dan kewajiban guru. Kegiatan pengembangan diri yang mencakup diklat fungsional dan kegiatan kolektif guru tersebut harus mengutamakan kebutuhan guru untuk pencapaian standar dan/atau peningkatan kompetensi profesi khususnya berkaitan dengan melaksanakan layanan pembelajaran. Beberapa contoh materi yang dapat dikembangkan dalam kegiatan pengembangan diri, baik dalam diklat fungsional maupun kegiatan kolektif guru, antara lain :

  1. perencanaan pendidikan dan program kerja;
  2. pengembangan kurikulum, penyusunan RPP dan pengembangan bahan ajar;
  3. pengembangan metodologi mengajar;
  4. penilaian proses dan hasil pembelajaran peserta didik;
  5. penggunaan dan pengembangan teknologi informatika dan komputer (TIK) dalam pembelajaran;
  6. inovasi proses pembelajaran;
  7. peningkatan kompetensi profesional dalam menghadapi tuntutan teori terkini;
  8. penulisan publikasi ilmiah;
  9. pengembangan karya inovatif;

10. kemampuan untuk mempresentasikan hasil karya; dan 11. peningkatan kompetensi lain yang terkait dengan pelaksanaan tugas-tugas tambahan atau tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah. Kegiatan pengembangan diri dilaksanakan di sekolah sesuai kebutuhan guru dan sekolah, dan dikoordinasikan oleh koordinator PKB. Bukti pelaksanaan kegiatan pengembangan diri yang dapat dinilai, antara lain :

  1. Diklat fungsional yang harus dibuktikan dengan surat tugas, sertifikat, dan laporan deskripsi hasil pelatihan yang disahkan oleh kepala sekolah.
  2. Kegiatan kolektif guru yang harus dibuktikan dengan surat keterangan dan laporan deskripsi hasil kegiatan yang disahkan oleh kepala sekolah.

B. PUBLIKASI ILMIAH   Publikasi ilmiah adalah karya tulis ilmiah yang telah dipublikasikan kepada masyarakat sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan dunia pendidikan secara umum. Publikasi ilmiah mencakup 3 kelompok kegiatan, yaitu :

  1. Presentasi pada forum ilmiah. Dalam hal ini guru bertindak sebagai pemrasaran dan/atau narasumber pada seminar, lokakarya, koloqium, dan/atau diskusi ilmiah, baik yang diselenggarakan pada tingkat sekolah, KKG/ MGMP/ MGBK, kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun internasional.
  2. Publikasi ilmiah berupa hasil penelitian atau gagasan ilmu bidang pendidikan formal. Publikasi dapat berupa karya tulis hasil penelitian, makalah tinjauan ilmiah di bidang pendidikan formal dan pembelajaran, tulisan ilmiah populer, dan artikel ilmiah dalam bidang pendidikan. Karya ilmiah ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah tertentu atau minimal telah diterbitkan dan diseminarkan di sekolah masing-masing. Dokumen karya ilmiah disahkan oleh kepala sekolah dan disimpan di perpustakaan sekolah.

Catatan :Bagi guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah, karya ilmiahnya harus disahkan oleh kepala dinas pendidikan setempat.

  1. Publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan/atau pedoman guru. Buku yang dimaksud dapat berupa buku pelajaran, baik sebagai buku utama maupun buku pelengkap, modul/diktat pembelajaran per semester, buku dalam bidang pendidikan, karya terjemahan, dan buku pedoman guru. Buku termaksud harus tersedia di perpustakaan sekolah tempat guru bertugas. Keaslian buku harus ditunjukkan dengan pernyataan keaslian dari kepala sekolah atau dinas pendidikan setempat bagi guru yang mendapatkan tugas tambahan sebagai kepala sekolah.

C. KARYA INOVATIF   Karya inovatif adalah karya yang bersifat pengembangan, modifikasi atau penemuan baru sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan dunia pendidikan, sains/ teknologi, dan seni. Karya inovatif ini dapat berupa penemuan teknologi tepat guna, penemuan/ penciptaan atau pengembangan karya seni, pembuatan/ modifikasi alat pelajaran/ peraga/ praktikum, atau penyusunan standar, pedoman, soal dan sejenisnya pada tingkat nasional maupun provinsi.

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

  A. HAKEKAT PTK 1. Pengertian PTK Menurut Stephen Kemmis (1983), PTK adalah suatu bentuk kegiatan penelaahan atau inkuiri melalui refleksi diri yang dilaku-kan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebe-naran dari (a) praktik-praktik sosial atau pendidikan yang mereka lakukan sendiri, (b) pemahaman mereka terhadap praktik-praktik tersebut, dan (c) situasi di tempat praktik itu dilaksanakan (David Hopkins, 1993: 44). Sedangkan Tim Pelatih Proyek PGSM (1999) mengemukakan bahwa PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktik pembelajaran tersebut dilakukan (M. Nur, 2001)     2. Tujuan PTK   Tujuan PTK adalah untuk perbaikan dan pening-katan layanan profesional guru.Di samping itu, sebagai tujuan penyerta PTK adalah untuk meningkatkan budaya meneliti bagi guru guna memperbaiki kinerja di kelasnya sendiri. Dalam hubungannya dengan peningkatan profesionalisme guru, kegiatan PTK penting untuk dilakukan dengan alasan: 1)        PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya. 2)        PTK dapat meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi profesional. 3)        Dengan melaksanakan tahapan-tahapan PTK, guru mampu memperbaiki proses pembelajaran di kelas. 4)        Pelaksanaan PTK tidak mengganggu tugas pokok seorang guru karena tidak perlu meninggalkan kelasnya. 5)        Dengan PTK guru akan menjadi kreatif.   3. Manfaat PTK   Manfaat yang dapat dipetik jika guru mau dan mampu me-laksanakan PTK: 1)  Guru semakin diberdayakan untuk mengambil berbagai prakarsa profesional secara mandiri, sehingga berkembang inovasi-inovasi pembelajaran yang sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan dan pembelajaran. 2)  PTK juga bermanfaat untuk pengembangan kurikulum dan untuk peningkatan profesionalisme guru.   4. Prinsip-Prinsip PTK Terdapat enam prinsip yang mendasari PTK yang dijelaskan Hopkins dalam Kardi (2000). Keenam prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Tugas utama guru adalah mengajar, dan apapun metode PTK yang diterapkannya, sebaiknya tidak mengganggu komotmennya sebagai pengajar.
  2. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan dari guru sehingga berpeluang mengganggu proses pembelajaran.
  3. Metodologi yang digunakan harus cukup reliabel, sehingga memungkinkan guru mengidentifikasi serta merumuskan hipotesis secara meyakinkan, mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelasnya, serta memperoleh data yang dapat digunakan untuk ”menjawab” hipotesis yang dikemukakannya.
  4. Masalah penelitian yang diambil oleh guru hendaknya masalah yang cukup merisaukannya, dan bertolak dari tanggung jawab profesionalnya, guru sendiri memiliki komitmen terhadap pemecahan masalah.
  5. Dalam penyelenggaraan PTK, guru haruslah bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya.
  6. Meskipun kelas merupakan cakupan tanggung jawab seorang guru, namun dalam pelaksanaan PTK sejauh mungkin harus digunakan classroom-exceeding perspective, dalam arti permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks kelas dan / atau mata pelajaran tertentu (skala mikro), melainkan dalam perspektif misi sekolah secara keseluruhan (skala makro).

5. Tahap – Tahap PTK PTK memiliki empat tahap yang dirumuskan oleh Lewin (Kemmis dan Mc Taggar, 1992) yaitu Planning (Rencana), Action (Tindakan), Observation (Pengamatan), dan Reflection (Refleksi). Berikut ini adalah penjelasannya: 1) Planning (Rencana) Rencana merupakan tahapan awal yang harus dilakukan guru sebelum melakukan sesuatu. Diharapkan rencana tersebut berpandangan ke depan, serta fleksibel untuk menerima efek-efek yang tak terduga dan dengan rencana tersebut secara dini kita dapat mengatasi masalah. 2) Action (Tindakan)   Tindakan ini merupakan penerapan dari perencanaan yang telah dibuat yang dapat berupa suatu penerapan model pembelajaran tertentu yang bertujuan untuk memperbaiki atau menyempurnakan model yang sedang dijalankan. 3) Observation (Pengamatan)   Pengamatan ini berfungsi untuk melihat dan mendoku-mentasikan pengaruh-pengaruh yang diakibatkan oleh tindakan dalam kelas.Hasil pengamatan ini merupakan dasar dilakukannya refleksi sehingga pengamatan yang dilakukan harus dapat menceritakan keadaan yang sesungguhnya. Dalam pengamatan, hal-hal yang perlu dicatat oleh peneliti adalah proses dari tindakan, efek-efek tindakan, lingkungan dan hambatan-hambatan yang muncul. 4) Reflection (Refleksi)   Refleksi disini meliputi kegiatan: analisis, sintesis, penafsiran (penginterpretasian), menjelaskan dan menyimpulkan. Hasil dari refleksi adalah diadakannya revisi terhadap perencanaan yang telah dilaksanakan, yang akan dipergunakan untuk memperbaiki kinerja guru pada pertemuan selanjutnya. Dengan demikian, PTK tidak dapat dilaksanakan dalam sekali pertemuan karena hasil refleksi membutuhkan waktu untuk melakukannya sebagai planning untuk siklus selanjutnya.   B. PELAKSANAAN PTK 1. Prosedur Pelaksanaan PTK PTK merupakan proses pengkajian melalui sistema berdaur atau siklus dari berbagai kegiatan pembelajaran. Menurut Raka Joni dan kawan-kawan (1998), terdapat 5 (lima) tahapan dalam pelaksanaan PTK. Kelima tahapan dalam pelaksanaan PTK tersebut adalah: 1) Penetapan fokus masalah penelitian 2) Perencanaan tindakan perbaikan 3) Pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan Interpretasi 4) Analisis data dan refleksi 5) Perencanaan tindak lanjut   Dalam pelaksanaannya, PTK diawali dengan kesadaran akan adanya permasalahan yang dirasakan mengganggu, yang dianggap menghalangi pencapaian tujuan pendidikan sehingga ditengarai telah berdampak kurang baik terhadap proses dan / atau hasil belajar siswa, dan / atau implementasi sesuatu program sekolah. Bertolak dari kesadaran mengenai adanya permasalahan tersebut, yang besar kemungkinan masih tergambarkan secara kabur, guru kemudian menetapkan fokus permasalahan secara lebih tajam, kalau perlu dengan mengumpulkan tambahan data lapangan secara lebih sistematis dan / atau melakukan kajian pustaka yang relevan.   1.1. Penetapan Fokus Masalah Penelitian 1.1.1. Merasakan Adanya Masalah Kepekaan dan kepedulian guru dalam pembelajaran sangat diperlukan. Sebab tanpa hal tersebut, tampaknya guru akan kesulitan memperoleh permasalahan PTK. Oleh sebab itu, agar guru dapat menerapkan PTK dalam upayanya untuk mem-perbaiki dan/atau meningkatkan layanan pembelajaran secara lebih profesional, ia dituntut keberaniannya untuk mengatakan secara jujur khususnya kepada diri sendiri mengenai sisi-sisi lemah yang masih terdapat dalam implementasi program pem-belajaran yang dikelolanya. Guru menyadari ada permasalahan dalam belajar siswa. Misalnya : – Minat belajar siswa rendah – Partisipasi siswa di kelas rendah – Banyak siswa yang sering tidak mengerjakan PR – Dari tahun ke tahun, banyak siswa tidak bisa menguasai suatu  konsep dengan benar. – Hasil tes siswa rendah,dll.   1.1.2. Identifikasi Masalah PTK   Sebagaimana telah dikemukakan penetapan arah PTK berangkat dari diagnosis terhadap keadaan yang bersifat umum. Guru juga bisa merinci proses penemuan permasalahan tersebut dengan bertolak dari gagasan – gagasan yang masih bersifat umum mengenai keadaan yang perlu diperbaiki. Menurut Hopkins (1993), untuk mendorong pikiran – pikiran dalam mengembangkan focus PTK, kita bisa bertanya kepada diri sendiri, misalnya: 1) Apa yang sedang terjadi sekarang? 2) Apakah yang terjadi itu mengandung permasalahn? 3) Apa yang bisa saya lakukan untuk mengatasinya?   1.1.3. Analisis Masalah Setelah memperoleh sederet permasalahan melaui proses identifikasi ini, maka peneliti / guru kelas melakukan analisis terhadap permasalahan – permasalahan tersebut untuk menentukan urgensi pengatasan. Menurut Abimanyu (1995) arahan yang perlu diperhatikan dalam pemilihan permasalahan untuk PTK adalah sebagai berikut:

  1. Pilih permasalahan yang dirasa penting oleh guru sendiri dan muridnya, atau topic yang melibatkan guru dalam serangkaian aktivitas yang memang diprogramkan oleh sekolah.
  1. Jangan memilih masalah yang berada di luar kemampuan dan / atau kekuasaan guru untuk mengatasinya.
  2. Pilih dan tetapkan permasalahn yang skalanya cukup kecil dan terbatas (manageable).
  3. Usahakan untuk bekerja secara kolaboratif dalam pengembangan focus penelitian.
  4. Kaitkan PTK yang akan dilakukan dengan prioritas – prioritas yang ditetapkan dalam rencana pengembangan sekolah.

1.1.4. Perumusan Masalah Setelah menetapkan focus permasalahan serta menganalisanya menjadi bagian – bagian dan lebih kecil, maka selanjutnya guru perlu merumuskan permasalahan secara lebih jelas, spesifik dan operasional. • Menguraikan masalah-masalah pokok yang menjadi pusat perhatian penelitian dalam bentuk rangkaian pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya akan diuji melalui penelitian yang dilakukan • Upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan apa saja yang ingin dicari jawabannya • Dijabarkan dari identifikasi dan pembatasan masalah • Merupakan pertanyaan yang lengkap/terperinci mengenai ruang lingkup permasalahan yang akan diteliti berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah • Mengarahkan cara berpikir peneliti • Memberi arah pada kajian teroritis berdasarkan pengetahuan ilmiah yang relevan • Memberi arah dalam melakukan pengujian secara empiris   Contoh Rumusan Masalah: Apakah melalui X dapat meningkatkan Y ? Contoh Judul: Upaya meningkatkan Y melalui X. Atau Melalui X untuk meningkatkan Y dst. 1.2. Perencanaan Tindakan Perbaikan 1.2.1. Formulasi solusi dalam bentuk hipotesis tindakan Dilihat dari sudut lain, alternatif tindakan perbaikan juga dapat dilihat sebagai hipotesis dalam arti mengindikasikan dugaan mengenai perubahan dalam arti perbaikan yang bakal terjadi jika suatun tindakan dilakukan. Misalnya jika kebiasaan membaca ditingkatkan melalui penugasan mencari kata atau istilah serapan, perbendaharaan kata akan meningkat dengan rata – rata 10 % setiap bulannya. Dari contoh ini, hipotesis tindakan merupakan tindakan yang diduga akan dapat memecahkkan masalah yang ingin diatasi dengan penyelenggaraan PTK. Agar dapt menyusun hipotesis tindakan dengan tepat, sebagai peneliti guru dapat melakukan: 1) Kajian teoretik di bidang pembelajaran pendidikan 2) Kajian hasil – hasil penelitian yang relevan dengan permasalahan 3) Diskusi dengan rekan – rekan sejawat, pakar pendidikan, peneliti lain, dan sebagainya. 4) Kajian pendapat dan saran pakar pendidikan khususnya yang dituangkan dalam bentuk program, dan 5) Mereflesikan pengalamannya sendiri sebagai guru.   Dari hasil kajian tersebut dapat diperoleh landasan untuk membangun hipotesis tindakan. Menurut Soedarsono (1997) beberapa, hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan hipotesis tindakan adalah sebagai berikut: 1) Rumusan alternatif tindakan perbaikan berdasar-kan hasil kajian. Dengan kata lain, alternatif tindakan perbaikan hendaknya mempunyai landasan yang mantap secara konseptual. 2) Setiap alternatif tindakan perbaikan yang dipertimbangkan perlu dikaji ulang dan dievaluasii dari segi relevansinya. Disamping itu juga perlu ditetapkan cara penilaiannya sehingga dapat memfasilitasi pengumpulan serta analisis data secara cepat namun tepat selama program tindakan perbaikan itu diimplementasikan. 3) Pilih alternatif tindakan serta prosedur implemen-tasi yang dinilai paling menjanjikan hasil optimal namun masih tetap ada dalam jangkauan kemampuan guru untuk melakukannya dalam kondisi dan situasi sekolah yang aktual. 4) Pikiran dengan seksama perubahan – perubahan ( perbaikan – perbaiakn) yang secara implisit dan dijanjikan melalui hipotesis tindakan itu, baik yang berupa proses dan hasil belajar siswa maupun tehnik mengajar guru.

Contoh Rumusan Hipotesis Tindakan:

Melalui X dapat meningkatkan Y atau

Untuk meningkatkan Y dapat melalui X

1.2.2. Analisis kelaikan hipotesis tindakan

Setelah diperoleh gambaran awal mengenai sejumlah hipotesis tindakan maka selanjutnya perlu dilakukan masing – masing hipotesis tindakan itu dari segi jarak yang terdapat antara situasi riil dengan situasi ideal yang dijadikan rujukan. Hipotesis tindakan harus dapat diuji secara empiris. Ini berarti bahwa baik proses implementasi tindakan yang dilakukan maupun dampak yang diakibatkannya dapat teramati oleh guru yang merupakan aktor PTK maupun mitra kerjanya. Menurut Soedarsono (1997) beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengkaji kelaikan hipotesis tindakan adalah sebagai berikut: 1) Implementasi suatu PTK akan berhasil, hanya apabila didukung oleh kemampuan dan komitmen guru yang merupakan aktornya. keberhasilan pelaksanaan PTK juga ditentukan oleh adanya komitmen guru yang merasa tergugah untuk melakukan tindakan perbaikan 2) Kemampuan siswa juga perlu diperhitungkan baik dari segi fisik, psikologis, dan sosial budaya maupun etik. 3) Fasilitas dan sarana pendukung yang tersedia di kelas atau sekolah. 4) Selain kemampuan siswa sebagai perorangan, keberhasilan PTK juga sangat tergantung pada iklim belajar di kelas atau sekolah. 5) Karena sekolah juga merupakan sebuah organisasai, maka selain iklim belajar sebagaimana dikemukakan pada butir 4) Iklim kerja sekolah juga menentukan keberhasilan penyelenggaraan PTK. 1.2.3. Perencanaan Tindakan   Sebelum dilaksanakan penelitian, peneliti perlu melak-sanakan berbagai persiapan sehingga semua komponen yang di-rencanakan dapat dikelola dengan baik. Langkah-langkah per-siapan yang perlu ditempuh adalah: 1) Membuat skenario pembelajaran yang berisikan langkah-langkah yang dilakukan guru, di samping bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan siswa dalam rangka implemen-tasi perbaikan yang telah direncanakan. 2) Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas, seperti gambar-gambar dan alat-alat peraga. 3) Mempersiapkan cara merekam dan menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan perbaikan, kalau perlu juga dalam bentuk pelatihan-pelatihan. 4) Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan perbaikan untuk menguji keterlaksanaan rancangan, sehingga dapat menumbuhkan serta mempertebal keper-cayaan diri dalam pelaksanaan yang sebenarnya. 1.3. Pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan Interpretasi 1.3.1. Pelaksanaan tindakan Kegiatan pelaksanaan tindakan perbaikan ini merupakan tindakan pokok dalam siklus PTK, dan pada saat yang bersama-an kegiatan pelaksanaan tindakan ini juga diikuti dengan ke-giatan observasi dan interpretasi, serta diikuti dengan kegiat-an refleksi. 1.3.2. Observasi dan Interpretasi Secara umum, observasi adalah upaya merekam segala perstiwa dan kegiatan yang terjadi selama tindakan perbaikan berlangsung, dengan menggunakan atau tanpa alat bantu. Perlu dicatat adalah kadar interpretasi yang terlibat dalam rekaman observasi secara seksama.   1.3.3. Diskusi ulang balikan (review discussion)   Observasi kelas akan memberikan manfaat apabila pelak- sanaannya diikuti dengan diskusi balikan. Hal ini bisa menjan-jikan manfaat yang optimal jika: 1) Diberikan tidak lebih dari 24 jam setelah observasi 2) Digelar dalam suasana yang mutually supportive dan non – threatening. 3) Bertolak dari rekaman data yang dibuat oleh pengamat. 4) Diinterpretasikan secara bersama-sama oleh aktor tindakan perbaikan dan pengamat dengan kerangka pikir tindakan perbaikan yang tengah digelar. 5) Pembahasan mengacu kepada penerapan sasaran serta pengembangan strategi perbaikan untuk menentukan perencanaan berikutnya. 1.4. Analisis Data dan Refleksi 1.4.1. Analisis Data   Analisis data dalam rangka refleksi setelah implementasi suatu paket tindakan perbaikan, mencakup proses dan dampak seperangkat tindakan perbaikan dalam suatu siklus PTK sebagai keseluruhan. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: 1) Reduksi data, yakni proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi, pemfokusan, dan peng-abstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna. 2) Paparan data, yakni proses penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif, representasi grafis, dan sebagainya. 3) Penyimpulan, yakni proses pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisasikan tersebut dalam bentuk pernyataan kalimat dan / atau formula yang singkat dan padat tetapi mengandung penger-tian yang luas.   1.4.2. Refleksi   Refleksi dalam PTK adalah upaya untuk mengkaji apa yang telah terjadi dan/atau tidak terjadi, apa yang telah diha-silkan atau yang belum berhasil dituntaskan dengan tindakan perbaikan yang telah dilakukan. Hasil refleksi ini digunakan untuk menetapkan langkah lebih lanjut dalam upaya mencapai tujuan PTK. 1.5. Perencanaan Tindak Lanjut   Sebagaimana telah diisyaratkan hasil analisis dan refleksi akan menentukan apakah tindakan yang telah dilaksanakan telah dapat mengatasi masalah yang memicu penyelenggaraan PTK atau belum. Jika hasilnya belum memuaskan, maka dilakukan tindakan perbaikan lanjutan dengan memperbaiki tindakan perbaikan sebelumnya atau apabila perlu, dengan menyusun tindakan perbaikan yang betul-betul baru untuk mengatasi masalah yang ada.   C. PENYUSUNAN PROPOSAL PTK   Berikut ini adalah sistematika Proposal PTK. 1. Judul   Judul dinyatakan dengan kalimat sederhana, namun tampak jelas maksud tindakan yang akan dilakukan dan dimana penelitian dilangsungkan, jika diperlukan cantumkan penanda waktu catur wulan/semester/tahun ajaran. Contoh: “Aplikasi Pendekatan Problem-Based Learning (PBL) Dapat Meningkatkan Pembelajaran Sosiologi pada Kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 Surakarta Tahun Pelajaran 2005 – 2006” 2. Pendahuluan 2.1. Latar Belakang Masalah Menguraikan kondisi objektif yang mengharuskan dilaksanakannya PTK. Kondisi ini merupakan hasil identifikasi guru terhadap masalah proses pembelajar-an yang diselenggarakan. 2.2. Rumusan Masalah Mengemukakan masalah-masalah yang akan dipecahkan melalui PTK yang akan dilaksanakan. Contoh: 1) Apakah dengan pendekatan Problem-Based Learning dapat meningkatkan pembelajaran Sosiologi pada kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 Surakarta tahun pelajaran 2006 – 2007? 2) Bagaimana perubahan tingkah laku yang menyertai peningkatan pembelajaran Sosiologi melalui pendekatan Problem-Based Learning?     2.3. Tujuan Penelitian   Tujuan penelitian merupakan proses yang akan dilaku-kan atau kondisi yang diinginkan setelah dilaksanakan PTK. Contoh: Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Sosiologi melalui pendekatan Problem-Based Learning pada kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 Surakarta. 2) Untuk mengetahui tingkah laku yang menyertai peningkatan pembelajaran Sosiologi melalui pendekatan Problem-Based Learning pada kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 Surakarta.   2.4. Manfaat Hasil Penelitian   Contoh: Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah: 1) Dapat meningkatkan kompetensi dan aktivitas pembelajaran para siswa kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 Surakarta. 2) Dapat menganalisis perubahan tingkah laku yang menyertai peningkatan pembelajaran Sosiologi melalui perlakuan khusus pendekatan Problem-Based Learning.   3. Kajian pustaka   Kajian pustaka berisikan ulasan-ulasan teoritis dengan konsep pembelajaran dan konteks PTK yang akan dilaksanakan. 4. Metode penelitian   Metode penelitian adalah tahapan-tahapan cara dalam melaksanakan penelitian. Contoh kerangka rancangan PTK yang lazim digunakan sebagai berikut: 4.1. Setting Penelitian   Contoh : Penelitian ini berbasis kelas dengan lokasi kelas XII IPS Madrasah Aliyah Negeri 2 Surakarta Propinsi Jawa Tengah.Akan dilaksanakan tahun 2005 – 2006 yang melibatkan siswa berjumlah 40 siswa. 4.2. Subyek Penelitian   Contoh: Subyek penelitian adalah siswa kelas XII Madrasah Aliyah Negeri 2 Surakarta tahun pelajaran 2005 – 2006 yang berjumlah 40 siswa, sebagaimana digambarkan dalam tabel (lampiran). 4.3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data   Contoh: Instrumen pengumpulan data dalam PTK ini ada dua, yaitu instrumen tes dan nontes: 1) Tes   Tes digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan pembelajaran 2) Non Tes   Teknik non tes yang dipilih pada penelitian ini ada 3 yaitu observasi, wawancara, dan jurnal. Observasi digunakan untuk mengetahui tentang respon dan sikap siswa terhadap pemahaman Wawancara digunakan untuk mengetahui tanggapan dan sikap siswa dalam pelaksanaan pendekatan PBL Jurnal digunakan untuk mengetahui berbagai gejala yang muncul dan tercatat atau terekam pada saat penerapan pendekatan PBL baik yang bersifat maju maupun mundur untuk mengadakan perbaikan pada siklus berikutnya 4.4. Validitas Data   Contoh: Hasil belajar (nilai tes) yang divalidasi instrumen tes menentukan validasi teoritik maupun validasi empirik (analisis kualitatif dan kuantitatif). Proses pembelajaran (observasi dan wawancara) yang divalidasi datanya melalui trianggulasi, baik sumber maupun metoda. 4.5. Analisis Data   Contoh : Teknik yang digunakan untuk analisis data pada penelitian ini adalah teknik deskriptif analitik dengan penjelasan sebagai berikut: 1) Data kuantitatif yang diperoleh dari hasil tes diolah dengan menggunakan deskripsi persentase. Nilai persentase dihitung dengan ketentuan sebagai berikut:   𝑁𝑃= 𝑁𝐾𝑅𝑥 100% R Keterangan: NP = Nilai persentase NK = Nilai komulatif R = Jumlah responden 2) Data kualitatif yang diperoleh dari observasi, wawancara dan jurnal diklasifikasikan berdasarkan aspek-aspek yang dijadikan fokus analisis. Data kuantitatif dan kualitatif ini kemudian dikaitkan sebagai dasar untuk mendeskripsikan keberhasilan penerapan pendekatan PBL, yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman konsep modernisasi dalam pembelajaran Sosiologi secara klasikal, dan perubahan tingkah laku yang menyertainya.   4.6. Indikator Kinerja   Contoh: Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) artinya penelitian dengan berbasis pada kelas.Dengan penelitian ini diperoleh manfaat berupa perbaikan praksis yang meliputi penanggulangan berbagai masalah belajar siswa dan kesulitan mengajar oleh guru. Untuk mengevaluasi ada tidaknya dampak positif terhadap tindakan, diperlukan kriteria keberhasilan, yang ditetapkan sebelum tindakan dilakukan.Dari kegiatan refleksi ini, diperoleh ketetapan tentang hal-hal yang telah tercapai menjadi bahan dalam merencanakan kegiatan siklus berikutnya. Indikator kinerja dari data kualitatif ditetapkan bahwa peningkatan partisipasi responden (siswa) dan peningkatan   4.7. Prosedur Penelitian Contoh: PTK dilaksanakan dalam bentuk proses pengkajian berdaur 4 tahap, yaitu (1) merencanakan, (2) melakukan tindakan, (3) mengamati (observasi), dan (4) merefleksi.   5. Personalia penelitian   Yakni orang-orang yang terlibat dalam PTK, kalau PTK ini dilakukan secara kolaboratif. 6. Rencana biaya penelititan   Rancangan biaya penelitian yang menyangkut berbagai kebutuhan, seperti: Bahan dan peralatan penelitian, alat peraga, ATK, penggandaan dan penjilidan, dan lain-lain. 7. Jadwal kerja Contoh: Kegiatan Siklus I Waktu 1. Persiapan 2. Pelaksanaan   Kegiatan Siklus II Waktu 1. Persiapan 2. Pelaksanaan 3. Penyusunan Laporann Akhir dan seminar   8. Daftar Pustaka 9. Lampiran Berisi curriculum vitae peneliti atau tim peneliti. D. PENYUSUNAN LAPORAN PTK   Selanjutnya apabila guru pelaksana penelitian tindakan kelas sudah merasa puas dengan siklus-siklus tersebut, tentu saja langkah berikutnya tidak lain adalah menyusun laporan kegiatannya. Proses penyusunan laporan ini tidak akan dirasakan sulit apabila sejak awal guru sudah disiplin mencatat apa saja yang sudah ia lakukan. Format laporan PTK berbeda-beda. Berikut ini akan diberikan dua contoh format penulisan laporan. Contoh 1: PENGANTAR BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Identifikasi Masalah C. Analisis Masalah D. Perumusan Masalah E. Tujuan Penelitian F. Manfaat Penelitian   BAB II FORMULASI SOLUSI DAN KELAIKAN HIPOTESIS TINDAKAN A. Formulasi Solusi 1. Kajian Teoritik 2. Kajian Hasil-hasil Penelitian yang relevan (jika ada) 3. Kajian Hasil diskusi (dengan teman sejawat, pakar pendidikan, peneliti) (jika ada) 4. Hasil refleksi pengalaman sendiri sebagai guru 5. Perumusan Hipotesis Tindakan B. Analisis Kelaikan Hipotesis Tindakan   BAB III METODE PENELITIAN A. Sasaran Penelitian B. Tempat dan Waktu Penelitian C. Skenario Pembelajaran D. Fasilitas dan Sarana Pendukung E. Teknik Pengumpulan Data F. Teknik Analisis Data   BAB IV PELAKSANAAN TINDAKAN, OBSERVASI INTERPRETASI A. Pelaksanaan Tindakan B. Observasi dan Interpretasi C. Diskusi Balikan   BAB V ANALISIS DATA DAN REFLEKSI A. Analisi Data 1. Reduksi Data 2. Paparan Data 3. Kesimpulan (terhadap data yang telah direduksi dan dipaparkan) B. Refleksi 1. Analisis 2. Pemaknaan 3. Penjelasan 4. Kesimpulan (tentang keberhasilan/kegagalan tindakan yang telah dilakukan)   Contoh 2: PENGANTAR BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Identifikasi Masalah C. Pembatasan dan Rumusan Masalah D. Tujuan Penelitian E. Hipotesis Tindakan F. Manfaat Hasil Penelitian   BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori (tentang B. Kajian Hasil Penelitian   BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Objek Tindakan B. Setting/lokasi /subjek penelitian C. Metode Pengumpulan Data D. Metode Analisis Data E. Cara Pengambilan Kesimpulan   BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Selintas Tentang Setting B. Uraian Penelitian Secara Umum C. Penjelasan Per siklus D. Proses Menganalisis Data E. Pembahasan dan Pengambilan Kesimpulan   BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan B. Saran

PENYUSUNAN RPP

 

A. Pengertian

Berdasarkan PP 19 Tahun 2005 Pasal 20 dinyatakan bahwa: ”Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar”. Sesuai dengan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses dijelaskan bahwa RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

B. Komponen RPP

RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan. Komponen RPP adalah: 1. Identitas mata pelajaran, meliputi: a. satuan pendidikan, b. kelas, c. semester, d. program studi, e. mata pelajaran atau tema pelajaran, f. jumlah pertemuan. 2. standar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran. 3. kompetensi dasar,   adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran.   4. indikator pencapaian kompetensi, adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. 5. tujuan pembelajaran, menggambarkan proses pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan karakter bangsa yang ingin ditanamkan dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. 6. materi ajar, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi. 7. alokasi waktu, ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar. 8. metode pembelajaran, digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran. 9. kegiatan pembelajaran : a. Pendahuluan   Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. b. Inti   Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. c. Penutup   Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau simpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindaklanjut. 10. Penilaian hasil belajar   Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada Standar Penilaian. 11. Sumber belajar   Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

C. PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN RPP

1. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik   RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik. 2. Mendorong partisipasi aktif peserta didik   Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar. 3. Mengembangkan budaya membaca dan menulis Proses pembelajaran dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan. 4. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut   RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi. 5. Keterkaitan dan keterpaduan   RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar.RPP disusun dengan mengakomodasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya. 6. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi   RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

D. LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN RPP

Langkah-langkah minimal dari penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dimulai dari mencantumkan Identitas RPP, Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Kegiatan pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian. Setiap komponen mempunyai arah pengembangan masing-masing, namun semua merupakan suatu kesatuan. Penjelasan tiap-tiap komponen adalah sebagai berikut.

1. Mencantumkan Identitas

Terdiri dari: Nama sekolah, Mata Pelajaran, Kelas, Semester, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator dan Alokasi Waktu. Hal yang perlu diperhatikan adalah : a. RPP boleh disusun untuk satu Kompetensi Dasar. b. Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dikutip dari silabus. (Standar kompetensi – Kompetensi Dasar – Indikator adalah suatu alur pikir yang saling terkait tidak dapat dipisahkan) c. Indikator merupakan:

  • ciri perilaku (bukti terukur) yang dapat memberikan gambaran bahwa peserta didik telah mencapai kompetensi dasar
  • § penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
  • § dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, satuan pendidikan, dan potensi daerah.
  • § rumusannya menggunakan kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi.
  • § digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

d. Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar, dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan (contoh: 2 x 40 menit). Karena itu, waktu untuk mencapai suatu kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada kompetensi dasarnya.

2. Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Output (hasil langsung) dari satu paket kegiatan pembelajaran. Misalnya: Kegiatan pembelajaran: ”Mendapat informasi tentang sistem peredaran darah pada manusia”. Tujuan pembelajaran, boleh salah satu atau keseluruhan tujuan pembelajaran, misalnya peserta didik dapat: 1. mendeskripsikan mekanisme peredaran darah pada manusia. 2. menyebutkan bagian-bagian jantung. 3. merespon dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh teman-teman sekelasnya. 4. mengulang kembali informasi tentang peredaran darah yang telah disampaikan oleh guru.   Bila pembelajaran dilakukan lebih dari 1 (satu) pertemuan, ada baiknya tujuan pembelajaran juga dibedakan menurut waktu pertemuan, sehingga tiap pertemuan dapat memberikan hasil.

3. Menetukan Materi Pembelajaran

Untuk memudahkan penetapan materi pembelajaran, dapat diacu dari indikator.

Contoh:

Indikator: Peserta didik dapat menyebutkan ciri-ciri kehidupan.

Materi pembelajaran:

Ciri-Ciri Kehidupan:

Nutrisi, bergerak, bereproduksi, transportasi, regulasi, iritabilitas, bernapas, dan ekskresi.

4. Menentukan Metode Pembelajaran

Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih. Karena itu pada bagian ini cantumkan pendekatan pembelajaran dan metode yang diintegrasikan dalam satu kegiatan pembelajaran peserta didik:

  1. Pendekatan pembelajaran yang digunakan, misalnya: pendekatan proses, kontekstual, pembelajaran langsung, pemecahan masalah, dan sebagainya.
  2. Metode-metode yang digunakan, misalnya: ceramah, inkuiri, observasi, tanya jawab, e-learning dan sebagainya.

5. Menetapkan Kegiatan Pembelajaran

  1. Untuk mencapai suatu kompetensi dasar harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan setiap pertemuan. Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

Langkah-langkah minimal yang harus dipenuhi pada setiap unsur kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:

1. Kegiatan Pendahuluan

  • § Orientasi: memusatkan perhatian peserta didik pada materi yang akan dibelajarkan, dengan cara menunjukkan benda yang menarik, memberikan illustrasi, membaca berita di surat kabar, menampilkan slide animasi dan sebagainya.
  • § Apersepsi: memberikan persepsi awal kepada peserta didik tentang materi yang akan diajarkan.
  • § Motivasi: Guru memberikan gambaran manfaat mempelajari gempa bumi, bidang-bidang pekerjaan berkaitan dengan gempa bumi, dsb.
  • § Pemberian Acuan: biasanya berkaitan dengan kajian ilmu yang akan dipelajari. Acuan dapat berupa penjelasanmateri pokok dan uraian materi pelajaran secara garis besar.
  • § Pembagian kelompok belajar dan penjelasan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar (sesuai dengan rencana langkah-langkah pembelajaran).

2. Kegiatan Inti

Berisi langkah-langkah sistematis yang dilalui peserta didik untuk dapat mengkonstruksi ilmu sesuai dengan skemata (frame work) masing-masing.Langkah-langkah tersebut disusun sedemikian rupa agar peserta didik dapat menunjukkan perubahan perilaku sebagaimana dituangkan pada tujuan pembelajaran dan indikator.

Untuk memudahkan, biasanya kegiatan inti dilengkapi dengan Lembaran Kerja Siswa (LKS), baik yang berjenis cetak atau noncetak. Khusus untuk pembelajaran berbasis ICT yang online dengan koneksi internet, langkah-langkah kerja peserta didik harus dirumuskan detil mengenai waktu akses dan alamat website yang jelas. Termasuk alternatif yang harus ditempuh jika koneksi mengalami kegagalan.

3. Kegiatan penutup

  • Guru mengarahkan peserta didik untuk membuat rangkuman/simpulan.
  • Guru memeriksa hasil belajar peserta didik. Dapat dengan memberikan tes tertulis atau tes lisan atau meminta peserta didik untuk mengulang kembali simpulan yang telah disusun atau dalam bentuk tanya jawab dengan mengambil ± 25% peserta didik sebagai sampelnya.
  • Memberikan arahan tindak lanjut pembelajaran, dapat berupa kegiatan di luar kelas, di rumah atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan.

2. Langkah-langkah pembelajaran dimungkinkan disusun dalam bentuk seluruh rangkaian kegiatan, sesuai dengan karakteristik model pembelajaran yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Oleh karena itu, kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup tidak harus ada dalam setiap pertemuan.

6. Memilih Sumber Belajar

Pemilihan sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan.Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat dan bahan. Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional, dan bisa langsung dinyatakan bahan ajar apa yang digunakan. Misalnya, sumber belajar dalam silabus dituliskan buku referensi, dalam RPP harus dicantumkan bahan ajar yang sebenarnya.

Jika menggunakan buku, maka harus ditulis judul buku teks tersebut, pengarang, dan halaman yang diacu.

Jika menggunakan bahan ajar berbasis ICT, maka harus ditulis namafile, folder penyimpanan, dan bagian atau link file yang digunakan, atau alamat website yang digunakan sebagai acuan pembelajaran.

7. Menentukan Penilaian

Penilaian dijabarkan atas teknik penilaian, bentuk instrumen, dan instrumen yang dipakai.

Contoh minimal Format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah sebagai berikut :

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

A. Identitas

Nama Sekolah : ……………………………..

Mata Pelajaran : ……………………………..

Kelas, Semester : ……………………………..

Standar Kompetensi : ……………………………..

Kompetensi Dasar : ……………………………..

Indikator : ……………………………..

Alokasi Waktu : ….. x … menit (… pertemuan)

B. Tujuan Pembelajaran

C. Materi Pembelajaran

D. Metode Pembelajaran

E. Kegiatan Pembelajaran

Langkah-langkah :

Pertemuan 1

 Kegiatan Awal

 Kegiatan Inti

 Kegiatan Penutup

Pertemuan 2

 Kegiatan Awal

 Kegiatan Inti

 Kegiatan Penutup

Pertemuan 3.dst

F. Sumber Belajar

G. Penilaian

Mengetahui

Kepala Sekolah……………….,                       Guru Mata Pelajaran,

…………………………….                          …………………….

  1. NIP.                                                                NIP.

 

PENULISAN ARTIKEL JURNAL DAN

KARYA ILMIAH POPULER

 

A. Karya Ilmiah Populer

1. Definisi

     Karya ilmiah populer adalah tulisan yang dipublikasikan di media massa (koran, majalah, atau sejenisnya). Karya ilmiah populer dalam kaitan dengan upaya pengembangan profesi ini merupakan kelompok tulisan yang lebih banyak mengandung isi pengetahuan, berupa ide, atau gagasan pengalaman penulis yang menyangkut bidang pendidikan pada satuan pendidikan penulis bersangkutan.

2. Kerangka Isi

    Sedangkan kerangka isinya disesuaikan dengan persyaratan atau kelaziman dari media massa yang akan mempublikasikan tulisan tersebut

B. Artikel Ilmiah Dalam bidang Pendidikan

1. Definisi

Artikel ilmiah dalam bidang pendidikan adalah tulisan yang berisi gagasan atau tinjauan ilmiah dalam bidang pendidikan formal dan pembelajaran di satuan pendidikan yang dimuat di jurnal ilmiah.

2. Kerangka Isi

 

    Artikel ilmiah di bidang pendidikan umumnya mengikuti aturan dari jurnal yang akan memuat artikel ilmiah dimaksud dan setidak-tidaknya berisi: 1)    pendahuluan, yang menguraikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat; 2)    kajian teori, yang menguraikan tentang teori-teori yang relevan; 3)    pembahasan, yang mengemukakan tentang gagasan/ide penulis dalam upaya memecahkan masalah yang berkaitan dengan bidang pendidikan dan pembelajaran di sekolah/ madrasahnya. Pembahasan tersebut didukung oleh teori dan data yang relevan; dan 4)    kesimpulan.

PENILAIAN KINERJA GURU

( PK-GURU)

A. Pengertian Penilaian Kinerja Guru

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya merupakan acuan dasar dalam menilai kinerja guru maupun pengembangan karir dan kepangkatan guru, dimana dalam pasal 1 ayat 8 disebutkan bahwa penilaian kinerja guru (PK Guru) adalah penilaian dari tiap butir kegiatan utama guru dalam rangka pembinaan karir kepangkatan dan jabatannya. Dalam melaksanakan tugas utamanya, guru tidak dapat melepaskan diri dari kemampuannya dalam penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta bagaimana menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap tersebut dalam pembelajarannya di sekolah, sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Penguasaan kompetensi dan penerapan pengetahuan serta keterampilan guru, sangat menentukan tercapainya kualitas proses dan hasil pembelajaran peserta didik. Dalam Permendiknas ini, ditetapkan 4 (empat) kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru yang profesional, yakni kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional sesuai bidang tugas yang diembannya.Karena itu, dikembangkan sistem penilaian kinerja guru berbasis bukti. Sistem PK Guru adalah sebuah sistem pengelolaan kinerja berbasis guru yang didesain untuk mengevaluasi tingkatan kinerja guru secara individu dalam rangka mencapai kinerja sekolah secara maksimal yang berdampak pada peningkatan prestasi peserta didik.Ini merupakan bentuk penilaian yang sangat penting untuk mengukur kinerja guru dalam melaksanakan pekerjaannya sebagai bentuk akuntabilitas sekolah. Pada dasarnya sistem penilaian kinerja guru bertujuan :

  1. menentukan tingkat kompetensi seorang guru;
  2. meningkatkan efisiensi dan efektivitas kinerja guru dan sekolah;
  3. menyajikan suatu landasan untuk pengambilan keputusan dalam mekanisme penetapan efektif atau kurang efektifnya kinerja guru;
  4. menyediakan landasan untuk program pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi guru;
  5. menjamin bahwa guru melaksanakan tugas dan tanggung-jawabnya serta mempertahankan sikap-sikap yang positif dalam mendukung pembelajaran peserta didik untuk mencapai prestasinya;
  6. menyediakan dasar dalam sistem peningkatan promosi dan karir guru serta bentuk penghargaan lainnya.

Berkenaan dengan pelaksanaan PK Guru, mengacu pada peraturan yang disebutkan di atas, PK Guru memiliki 2 (dua) fungsi utama berikut. 1. Untuk menilai unjuk kerja (kinerja) guru dalam menerapkan semua kompetensi yang diperlukan pada proses pembelajaran. Dengan demikian, hasil PK Guru menjadi profil kinerja guru yang dapat memberikan gambaran kekuatan dan kelemahan guru. Profil kinerja guru juga dapat dimaknai sebagai suatu analisis kebutuhan atau audit keterampilan untuk setiap guru yang dapat dipergunakan sebagai dasar untuk merencanakan PKB Guru. 2. Untuk menghitung angka kredit yang diperoleh guru atas kinerja guru. Kegiatan penilaian kinerja dilakukan setiap tahun sebagai bagian dari proses pengembangan karir dan promosi guru untuk kenaikan pangkat dan jabatan fungsionalnya.   Hasil PK Guru diharapkan dapat bermanfaat untuk menentukan berbagai kebijakan yang terkait dengan peningkatan mutu dan kinerja guru sebagai ujung tombak pelaksanaan proses pendidikan dalam menciptakan insan yang cerdas, komprehensif, dan berdaya saing tinggi. C. Syarat Sistem PK Guru   Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam PK Guru adalah : 1. Valid   Sistem PK Guru dikatakan valid bila aspek yang dinilai benar-benar mengukur komponen-komponen tugas guru dalam melaksanakan pembelajaran, pembimbingan, dan/atau tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/ madrasah. 2. Reliabel   Sistem PK Guru dikatakan reliabel atau mempunyai tingkat kepercayaan tinggi bila proses yang dilakukan memberikan hasil yang sama untuk seorang guru yang dinilai kinerjanya oleh siapapun dan kapan pun. 3. Praktis   Sistem PK Guru dikatakan praktis bila dapat dilakukan oleh siapapun dengan relatif mudah, dengan tingkat validitas dan reliabilitas yang sama dalam semua kondisi tanpa memerlukan persyaratan tambahan.   D. Prinsip Pelaksanaan PK Guru   Agar hasil pelaksanaan dan PK Guru dapat dipertanggungjawabkan, maka PK Guru harus memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut : 1. Berdasarkan ketentuan PK Guru harus dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan mengacu pada peraturan yang berlaku. 2. Berdasarkan kinerja Aspek yang dinilai dalam PK Guru adalah kinerja yang dapat diamati dan dipantau sesuai dengan tugas guru sehari-hari dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, pembimbingan, dan/atau tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/ madrasah.

3. Berlandaskan dokumen PK Guru

Penilai, guru yang dinilai, dan unsur lain yang terlibat dalam proses PK Guru harus memahami semua dokumen yang terkait dengan sistem PK Guru, terutama yang berkaitan dengan pernyataan kompetensi dan indikator kinerjanya secara utuh, sehingga penilai, guru dan unsur lain yang terlibat dalam proses PK Guru mengetahui dan memahami tentang aspek yang dinilai serta dasar dan kriteria yang digunakan dalam penilaian.

4. Dilaksanakan secara konsisten

PK Guru dilaksanakan secara teratur setiap tahun yang diawali dengan evaluasi diri, dengan memperhatikan hal-hal berikut.

a. Obyektif

Dilaksanakan secara obyektif sesuai dengan kondisi nyata guru dalam melaksanakan tugas sehari hari.

b. Adil

Memberlakukan syarat, ketentuan, dan prosedur standar kepada semua guru yang dinilai.

c. Akuntabel

Dapat dipertanggungjawabkan.

d. Bermanfaat

Bermanfaat bagi guru dalam rangka peningkatan kualitas kinerjanya secara berkelanjutan, dan sekaligus pengembangan karir profesinya.

e. Transparan

Memungkinkan bagi penilai, guru yang dinilai, dan pihak lain yang berkepentingan, untuk memperoleh akses informasi atas penyelenggaraan penilaian tersebut. f. Berorientasi pada tujuan Berorientasi pada tujuan yang telah ditetapkan. g. Berorientasi pada proses

PK Guru tidak hanya terfokus pada hasil, tetapi juga perlu memperhatikan proses, yakni bagaimana guru dapat mencapai hasil tersebut.

h. Berkelanjutan

Dilaksanakan secara periodik, teratur, dan berlangsung secara terus menerus (on going) selama seseorang menjadi guru.

i. Rahasia

Hanya boleh diketahui oleh pihak-pihak terkait yang berkepentingan.

E. Aspek yang Dinilai dalam PK Guru

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru terdapat 4 (empat) kompetensi yang harus dimiliki guru, yaitu, kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional dengan 14 (empat belas) subkompetensi sebagaimana yang telah dirumuskan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Sedangkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor menjelaskan bahwa seorang guru BK/Konselor juga harus memiliki (empat) kompetensi (pedagogik, keperibadian, sosial, dan profesional) dengan 17 sub-kompetensi. Pengembangan instrumen penilaian kinerja guru kelas/mata pelajaran dan guru BK/Konseloryang mencakup 3 dimensi tugas utama dengan indikator kinerjanya masing-masing yang dinilai berdasarkan unjuk kerja akibat kompetensi yang dimiliki oleh guru. Untuk masing-masing indikator kinerja dari setiap dimensi tugas utama akan dinilai dengan menggunakan rubrik penilaian yang lebih rinci untuk melihat apakah unjuk kerja dari kepemilikan kompetensi tersebut tergambarkan dalam hasil kajian dokumen perencanaan termasuk dokumen pendukung lainnya dan/atau hasil pengamatan yang dilaksanakan oleh penilai pada saat melakukan pengamatan dalam pembelajaran selama proses penilaian kinerja. Sedangkan penilaian kinerja guru yang terkait dengan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah, dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu : 1. Tugas tambahan yang mengurangi jam mengajar tatap muka meliputi

  1. Kepala sekolah/ madrasah,
  2. Wakil kepala sekolah /madrasah,
  3. Ketua program keahlian/program studi atau yang sejenisnya,
  4. Kepala perpustakaan;
  5. Kepala laboratorium, bengkel, unit produksi, atau yang sejenisnya.

2. Tugas tambahan yang tidak mengurangi jam mengajar tatap muka, meliputi

  1. tugas tambahan minimal satu tahun (misalnya menjadi wali kelas, guru pembimbing program induksi, dan sejenisnya) dan
  2. tugas tambahan kurang dari satu tahun (misalnya menjadi pengawas penilaian dan evaluasi pembelajaran, penyusunan kurikulum, dan sejenisnya).

PK Guru dengan tugas tambahan yang mengurangi jam mengajar tatap muka dinilai dengan menggunakan instrumen khusus yang dirancang berdasarkan kompetensi dan sub-kompetensi yang dipersyaratkan.

F. Perangkat Penilaian PK Guru

Perangkat yang harus digunakan oleh penilai untuk melaksanakan PK Guru agar diperoleh hasil penilaian yang obyektif, akurat, tepat, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan adalah :

1. Pedoman PK Guru

2. Instrumen penilaian kinerja

Jenis instrumen PK Guru merupakan paket instrumen yang dilengkapi dengan rubrik penilaian untuk masing-masing indikator kinerja dari setiap tugas utama guru :

  1. Instrumen penilaian kinerja pelaksanaan pembelajaran untuk guru kelas/mata pelajaran
  2. Instrumen penilaian kinerja pelaksanaan pembimbingan untuk guru BK/ Konselor
  3. Instrumen penilaian pelaksanaan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah

G. Prosedur dan Waktu Pelaksanaan PK Guru

1. Periode Pelaksanaan

PK Guru dilakukan sekali dalam setahun, tetapi prosesnya dilakukan sepanjang tahun terutama dalam memantau unjuk kerja guru dalam mengimplementasikan kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial.Kegiatan PK Guru diawali dengan kegiatan evaluasi diri yang dilaksanakan pada awal semester pertama. Rentang waktu antara pelaksanaan kegiatan evaluasi diri dan kegiatan PK Guru adalah 2 (dua) semester. Dalam rentang waktu tersebut, guru wajib melaksanakan kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB Guru) untuk memperoleh pembinaan keprofesiannya sebelum mengikuti PK Guru.

a. Evaluasi Diri

Dilakukan untuk memperoleh profil kompetensi guru yang bermanfaat sebagai salah satu dasar bagi kepala sekolah dan/atau koordinator PKB untuk merencanakan program PKB yang harus dilaksanakan guru.Evaluasi diri dan penyusunan rencana PKB dilaksanakan dalam kurun waktu 4 – 6 minggu di awal semester pertama.Dokumen evaluasi diri guru dan rencana PKB individu guru dapat dilihat dalam Panduan PKB.

Bagi guru yang mutasi di pertengahan tahun ajaran, evaluasi dirinya dapat menggunakan hasil evaluasi diri yang dilaksanakan di sekolah asal.

    b. PK Guru

PK Guru dilakukan di akhir rentang waktu 2 semester setelah melaksanakan PKB yang telah direncanakan, harus dilaksanakan dalam waktu 4 – 6 minggu di semester kedua. Hasil PK Guru digunakan : (1) sebagai dasar usulan penetapan angka kredit tahunan guru kepada tim penilai angka kredit, (2) sebagai salah satu dasar pelaksanaan PKB untuk rentang waktu 2 semester berikutnya disamping hasil evaluasi diri yang harus dilakukan secara periodik sebagaimana telah dijelaskan di atas.

2. Metode PK Guru

PermenPAN dan RB 16/2009 mengelompokkan ke dalam 3 kelompok penilaian, yaitu :

a. Guru Kelas/ Mata Pelajaran

Dilakukan melalui pengamatan dan/atau pemantauan. Pengamatan adalah kegiatan untuk menilai kinerja guru sebelum, selama, dan setelah pelaksanaan proses pembelajaran. Sedangkan pemantauan adalah kegiatan untuk menilai kinerja guru melalui pemeriksaan dokumen, wawancara dengan guru yang dinilai, dan/atau wawancara dengan warga sekolah. Pengamatan kegiatan pembelajaran dapat dilakukan di kelas dan/atau di luar kelas tanpa harus mengganggu proses pembelajaran.

b. Guru BK/ Konselor

Dilakukan dengan pengamatan dan/atau pemantauan.Pengamatan adalah kegiatan penilaian terhadap pelaksanaan layanan BK (layanan klasikal, layanan bimbingan kelompok, dan/atau layanan konseling kelompok tidak termasuk layanan konseling individual).Sedangkan pemantauan adalah kegiatan penilaian melalui pemeriksaan dokumen, wawancara dengan guru BK/ Konselor dan/atau wawancara dengan warga sekolah.Khusus untuk layanan konseling individual, pemantauan dilakukan melalui transkrip pelaporan layanan. Pengamatan kegiatan pembimbingan dapat dilakukan selama proses pembimbingan baik yang dilakukan dalam kelas maupun di luar kelas, baik pada saat pembimbingan individu maupun kelompok

c. Guru dengan Tugas Tambahan yang Relevan dengan Fungsi Sekolah

Metode pelaksanaan PK Guru dengan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah sama dengan metode pelaksanaan PK Guru pembelajaran/ pembimbingan. Perbedaannya terletak pada pelaksanaan penilaian kinerja yang mencakup 2 (dua) kegiatan penilaian kinerja untuk kegiatan pembelajaran/ pembimbingan dan penilaian kinerja tugas tambahan.Sedangkan nilai penilaian kinerja merupakan penjumlahan dari prosentase yang telah ditetapkan dari nilai dua kegiatan penilaian kinerja tersebut.

d. Guru PNS di Sekolah Swasta

PK Guru terhadap guru PNS yang diperbantukan di sekolah swasta dilaksanakan dengan prosedur dan tahapan penilaian yang sama dengan guru PNS yang bertugas di sekolah negeri. Penilaian dilakukan oleh Kepala Sekolah dimana guru bertugas, kemudian hasil penilaian beserta dengan seluruh dokumen pendukungnya diketahui oleh Kepala Sekolah Negeri yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota/Provinsi. Selanjutnya nilai kinerja tersebut dilaporkan ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota/Provinsi dan tim penilai angka kredit untuk ditetapkan Angka Kredit Tahunan bagi guru tersebut.  

  3. Mekanisme Pelaksanaan PK Guru

a. Tahap Persiapan

Dalam tahap persiapan, penilai kinerja guru maupun guru yang akan dinilai, harus memahami pedoman penilaian kinerja guru yang mencakup :

1) Konsep PK Guru;

2) Prosedur pelaksanaan PK Guru;

3) Instrumen PK Guru yang terdiri dari :

a) format hasil pemantauan dan pengamatan;

b) format PK Guru; dan

c) rekap hasil PK Guru, dan penggunaannya;

4) Tugas dan tanggung jawab penilai dan guru yang akan dinilai.

b. Tahap Pelaksanaan

1) Pelaksanaan Evaluasi Diri

Evaluasi Diri dilaksanakan dalam periode 4 – 6 minggu pertama di awal rentang waktu 2 semester, hasil evaluasi diri digunakan guru untuk menyusun program PKB yang dilaksanakan sampai dengan menjelang pelaksanaan PK Guru yang dilaksanakan dalam kurun waktu 4 – 6 diakhir rentang waktu 2 semester. Setelah guru mengikuti PK Guru, maka hasil penilaian tersebut bersama-sama dengan hasil evaluasi diri berikutnya dipergunakan untuk menyusun program PKB untuk periode selanjutnya. a) Pada saat pelaksanaan evaluasi diri, guru kelas/ mata pelajaran harus juga menyusun dokumen pendukung pembelajaran, antara lain : Program Tahunan, Program Semester, Silabus, RPP, Bahan Ajar, LKS, Instrumen Penilaian, Nilai Hasil Belajar, Analisis Penilaian Hasil Belajar, Program Tindak Lanjut (Remidial dan Pengayaan) dan Daftar Nama Peserta Didik; b) Dokumen pendukung yang harus diserahkan oleh guru BK/Konselor antara lain Program Pelayanan BK, Instrumen dan Analisis Assesmen, RPL (Rencana Pelaksanaan Layanan), Satlan (Satuan Layanan), Satkung (Satuan Pendukung), Instrumen dan Analisis Evaluasi Proses serta Hasil dan Laporan Pelaksanaan Program BK (Lapelprog BK). c) Dokumen-dokumen tersebut semuanya akan dikumpulkan pada saat pelaksanaan PK Guru dalam periode 4 – 6 minggu terakhir di kurun waktu 2 semester setelah kegiatan evaluasi diri dan PKB dilaksanakan.

   2) Pelaksanaan PK Guru

PK Guru dilaksanakan pada 4 – 6 minggu di akhir kurun waktu 2 semester menggunakan instrumen yang dilengkapi dengan rubrik penilaiannya. PK Guru dilakukan dengan pengamatan dan/atau pemantauan yang dilengkapi rubriknya dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut : a) Sebelum Pengamatan dan/atau Pemantauan

  • Dilakukan pertemuan awal antara penilai dengan guru yang akan dinilai. Guru kelas/ mata pelajaran harus menyerahkan perangkat pembelajaran antara lain; Program Tahunan, Program Semester, Silabus, RPP, Bahan Ajar, Lembar Kerja Siswa, Instrumen Penilaian, Nilai Hasil Belajar, Analisis Penilaian Hasil Belajar, Program Tindak Lanjut (Remedial dan Pengayaan) dan Daftar Nama Peserta Didik.
  • Sedangkan guru BK/Konselor harus menyerahkan dokumen pelayanan BK berupa Program Pelayanan BK, Instrumen dan Analisis Assesmen, RPL (Rencana Pelaksanaan Layanan)/ Satlan (Satuan Layanan)/Satkung (Satuan Pendukung), Instrumen dan Analisis Evaluasi Proses dan Hasil dan Laporan Pelaksanaan Program BK (Lapelprog BK).
  • Penilai melakukan penilaian terhadap semua dokumen perangkat pembelajaran/ pembimbingan. Diskusikan berbagai hal yang berkaitan dengan tugas pokok guru dengan mengacu pada instrumen.
  • Catat semua hasil diskusi ke dalam instrumen untuk masing-masing indikator kinerja setiap tugas utama guru sebagai bukti penilaian kinerja.
  • Sepakati jadwal pelaksanaan PK Guru, khususnya untuk kegiatan pengamatan dalam penilaian kinerja.
  • Untuk pelaksanaan PK Guru yang mendapat tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah menggunakan instrumen sesuai dokumen penilaian kinerja tugas tambahan.

b) Selama Pengamatan (1) Pengamatan terhadap guru kelas/mata pelajaran Gunakan instrumen PK Guru pembelajaran untuk menetapkan ketercapaian/ keterlaksanaan semua indikator secara valid, reliabel, dan konsisten tentang hasil PK Guru, pengamatan dimungkinkan dapat dilakukan lebih dari satu kali. (2) Guru BK/ Konselor

  • Menyerahkan dokumen layanan BK/ Konselor.
  • Lakukan pengamatan proses pelaksanaan layanan BK di dalam dan atau diluar kelas dan catat semua kegiatan yang dilakukan oleh guru.
  • Gunakan instrumen PK Guru untuk menetapkan ketercapaian/ keterlaksanaan semua indikator secara valid, reliabel, dan konsisten tentang hasil PK Guru, pengamatan dapat dilakukan lebih dari satu kali.

(3) Guru dengan Tugas Tambahan Dalam proses penilaian pelaksanaan tugas tambahan, data dan informasi dapat diperoleh melalui pengamatan, wawancara dengan stakeholder (guru, komite sekolah, peserta didik, Dunia Usaha/Dunia Industri mitra). Bukti-bukti yang dimaksud dapat berupa bukti yang teramati (tangible evidences) seperti :  Dokumen-dokumen tertulis  Kondisi sarana/prasarana (hardware dan/atau software) dan lingkungan sekolah  Foto, gambar, slide, video.  Produk-produk siswa,dan/ atau bukti yang tak teramati (intangible evidences) seperti  Sikap dan perilaku kepala sekolah  Budaya dan iklim sekolah   Semua bukti yang teridentifikasi ditulis di tempat yang disediakan pada masing-masing indikator penilaian. c) Setelah Pengamatan   Setelah pengamatan dan/atau pemantauan pembelajaran/ pembimbingan, penilai dapat melakukan, antara lain :

  • Dilakukan pertemuan antara penilai dan guru yang dinilai untuk mengklarifikasi beberapa aspek yang masih
  • diragukan dan menyepakati program tindak lanjut dari hasil pengamatan/ pemantauan;
  • Catat semua hasil pertemuan pada instrumen PK Guru;
  • Jika penilai merasa belum cukup bukti untuk menentukan skor/nilai kinerja, maka penilai dapat melakukan pengamatan ulang. Sampaikan kekurangannya kepada guru yang dinilai dan sepakati jadwal pelaksanaan pengamatan ulang.

c. Tahap Pemberian Nilai

Pada tahap ini penilai menetapkan nilai untuk setiap indikator kinerja setiap dimensi tugas utama guru dengan skala nilai 1, 2, 3, atau 4.Sebelum pemberian nilai tersebut, penilai terlebih dahulu mengidentifikasi melalui pemantauan dan/atau pengamatan apakah setiap indikator kinerja untuk masing-masing dimensi tugas utama guru dapat teramati dan/atau terpantau.

HASIL PTK MGMP PKn SMP KLU TAHUN 2012

Hasil PTK MGMP PKn SMP Kab. Lombok Utara Klpk. Wilayah Gangga 2012

 

EFEKTIFITAS MODEL PEMBELAJARAN  KOOFERATIF LEANING TIFE  JIGSAW UNTUK PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN PKn

KELAS VII  SEMESTER  1 SMPN 2 GANGGA TAHUN PELAJARAN 2012 /2013.

LALU HAERUDIN, S.Pd.,AHMAD AHYAR RASIDI, S.Pd. Drs.ILHAM,  SAEP, S.Pd.SRIANA , S.Pd., ABDI WARMAN , S.Pd. SAHNAN, S.Pd.,MAHRIP, S.Pd.,AGUS SARJONO, S.Pd.NANI PRIHARTINI, S.Pd

 

Abstrak :Penelitan ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII.C SMPN 2 Gangga pada materi Makna Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi yang pertama melalui Penerapan Model Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam proses belajar mengajar. Jenis penelitan yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dalam 2 siklus pada siswa kelas VII.C SMPN 2 Gangga yang berjumlah 29 siswa yang dijadikan sebagai objek. Hasil penelitian menunjukkan aktifitas belajar siswa pada siklus 1 sebesar 5 dengan katagori aktif dan siklus 2 sebesar 6 dengan katagori sangat aktif. Data ketuntasan klasikal siklus 1 di peroleh 71,42% dan siklus II sebesar 88,88 %. Jadi berdasarkan   hasil data keseluruhan baik data aktivitas maupun data hasil belajar siswa dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw  dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII.C SMPN 2 Gangga Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara Tahun Pelajaran2012/2013.

Kata kunci : model kooperatif tipe Jigsaw, hasil belajar.

Sekolah adalah tempat siswa untuk memperoleh ilmu pengetahuan serta rmengembangkan minat dan bakat yang ada pada siswa. Sehingga untuk itu diperlukan suasana pembelajaran siswa yang aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan agar semua potensi yang ada pada siswa dapat berkembang dan tersalurkan dengan sempurna.

Namun pada kenyaataan yang kita jumpai di sekolah, khususnya pada SMP Negeri 2 Gangga ini banyak siswa yang hasil belajarnya masih rendah. Terutama dalam materi pembelajaran PKn, hal ini dikarenakan sebagian besar siswa menganggap materi pembelajaran PKn itu membosankan dan sulit dipahami.

Belajar adalah proses untuk membuat perubahan dalam diri siswa dengan cara berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapatkan perubahan dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Pembelajaran adalah pengembangan pengetahuan, keterampilan, atau sikap baru pada saat seorang individu untuk berinteraksi dengan informasi dan lingkungan.

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerjasama dan membantu memahami suatu bahan pembelajaran.

Dalam pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi saja, namun siswa juga harus mempelajari keterampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok. Sedangkan peranan tugas dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok selama kegiatan.Tindakan yang dilakukan untuk mencoba mengatasi masalah ini adalah mencari model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa dan bisa memotivasi siswa yang tidak aktif maupun yang kurang aktif dalam proses pembelajaran.

Tipe Jigsaw adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif di mana pembelajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa yang bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mendapatkan pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Pada pembelajaran tipe Jigsaw ini setiap siswa menjadi anggota dari 2 kelompok, yaitu anggota kelompok asal dan anggota kelompok ahli. Anggota kelompok asal terdiri dari 3-5 siswa yang setiap anggotanya diberi nomor kepala 1-5. Nomor kepala yang sama pada kelompok asal berkumpul pada suatu kelompok yang disebut kelompok ahli.

Hasil belajar merupakan pencapaian tujuan pendidikan pada siswa yang mengikuti proses belajar mengajar. Hasil belajar perlu dievaluasi. Evaluasi dimaksudkan sebagai cermin untuk melihat kembali apakah tujuan yang ditetapkan telah tercapai dan apakah proses belajar mengajar telah berlangsung efektif untuk memperoleh hasil belajar.

Penelitian bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas VII.C di SMP Negeri 2 Gangga kec. Gangga Kab. Lombok Utara Provinsi  NTB TP. 2012/2013.

METODE  PENELITIAN

Subyek penelitian adalah siswa kelas VII.C SMP Negeri 2 Gangga yang berjumlah 29 orang. Rancangan penelitian adalah penelitian tindakan kelasatau Classroom based action research. Penelitian terdiri atas dua siklus. Siklus I dilaksanakan pada tanggal 5 November 2012 dan Siklus II pada tanggal 8 Desember 2012. Masing-masing siklus melalui tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Secara umum alur pelaksanaan tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini digambarkan, seperti gambar 1 berikutini

Perencanaan

SIKLUS I

Pengamatan

Pelaksanaan

refleksi

Perencanaan

SIKLUS II

Perencanaan

Pelaksanaan

refleksi

Pelaporan

Arikunto, 2008

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Penelitian

Siklus I

a)        Perencanaan

Pada tahap perencanaan ini dilakukan persiapan seperti membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), menyiapkan lembar obervasi siswa dan guru yang digunakan untuk mengamati aktivitas proses pembelajaran selama penelitian berlangsung, menyiapkan Lembar Diskusi Siswa (LDS), dan menyiapkan tes evaluasi (tes hasil belajar).

b)        Pelaksanaan

Pada tahap ini, pelaksanaan siklus I dilaksanakan satu kali pertemuan dimana pada pertemuan ini menyampaikan materi Unsur dan Senyawa kemudian mengerjakan LDS dan setelah itu dilaksanakan evaluasi siklus I sub pokok bahasan Unsur dan Senyawa.

c)        Observasi dan Evaluasi

1)   Hasil observasi aktivitas siswa

Berdasarkan kriteria penggolongan aktivitas siswa yang telah diobservasi secara kelompok pada siklus I sebesar 12 dan berkategori aktif.

2)   Hasil observasi aktivitas guru

Hasil observasi diperoleh dari pengamatan yang dilakukan oleh guru sejawat (pendamping) dengan mengisi lembar observasi yang telah dipersiapkan. Semua aktivitas guru yang nampak diberi tanda rumput dalam lembar observasi. Adapun hasil yang diperoleh yaitu aktivitas guru berada diinterval 5-4 yang tergolong dalam kategori baik.

3)   Hasil evaluasi belajar siswa

Berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilaksanakan diperoleh data seperti pada tabel berikut ini :

No

Nama Siswa

Jumlah

Skor

Keterangan

Tuntas

Tidak

1 Amril Rahmat Rahim

60

2 Dedi Supriadi

50

3 Dendi Putrawan

80

4 Dodik Krismon

60

5 Erwin

60

6 Erwin Pradana

70

7 Esi Yusmita

60

8 Fedri Haduanto

50

9 Gito Saputra

60

10 Hendi Hariawan

40

11 Heri Efendi

50

12 Heri Satri Sukma

70

13 Ikawati

60

14 Irawan Wahyudi

70

15 Juhaeni

50

16 Jumadil Akhir

70

17 Lili Rahayu Septiana

50

18 Megawati

70

19 Muniati

70

20 Pandi Hardianto

65

21 Pina Handayani

70

22 Pipin Nopia

70

23 Sahrul Nizam Al-Fazani

50

24 Silvia Haerani

80

25 Tarmizi

70

26 Tomi Arizona

70

27 Yanti Temarwut

50

28 Yogi Komala Tobing

70

29 Zohri

70

Jumlah

1815

21

8

Rata-rata Nilai

62,58

Tabel 1.1 Nilai Hasil Evaluasi Siswa Siklus I

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa hasil evaluasi belajar siswa diperoleh rata-rata nilai sebesar 62,58. Dari 29 siswa terdapat 21 siswa yang tuntas dan 8 siswa tidak tuntas. Sehingga ketuntasan klasikal diperoleh 72,41%. Karena ketuntasan klasikal tercapai apabila banyaknya siswa yang tuntas ≥ 85%, maka pada siklus I ini ketuntasan klasikal belum tercapai.

d)   Refleksi

Dilihat dari analisis evaluasi pada siklus I presentase ketuntasan belajar belum tercapai 72,41%. Hal ini disebabkan karena belum sempurnanya penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada siklus I.

Pada siklus II diadakan penyempurnaan dan perbaikan terhadap kendala-kendala pada siklus I seperti: kurangnya LDS, masih ada siswa yang belum aktif dalam diskusi, perhatian guru tidak merata pada semua kelompok dan guru tidak mengontrol siswa yang tidak aktif pada kelompok tertentu.

Siklus II

a)    Perencanaan

Hasil penelitian siklus II merupakan perbaikan dan kelanjutan dari siklus I. Penelitan pada siklus II berlangsung pada tanggal 8 desember 2012 diawali dengan tahap perencanaan, observasi, evaluasi dan refleksi. Berikut akan diuraikan pelaksanaan penelitian siklus II.

Perencanaan penelitian siklus II tidak jauh beda dengan siklus I. Pada tahap perencanaan ini juga dilakukan persiapan seperti membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), menyiapkan lembar observasi aktivitas siswa dan guru, menyiapkan lembar diskusi siswa (LDS), dan menyiapkan tes evaluasi (tes hasil belajar)

b)   Pelaksanaan

Pada siklus II ini diusahakan perbaikan-perbaikan terhadap kegiatan belajar-mengajar sebelumnya berdasarkan hasil observasi. Materi yang diajarkan pada siklus II ini adalah tentang campuran. Siklus ke II ini dilaksanakan sama seperti siklus I yaitu satu kali pertemuan.

c)    Observasi dan evaluasi

1)        Hasil observasi aktivitas siswa

Berdasarkan kriteria penggolongan aktivitas siswa yang telah diobservasi secara kelompok pada siklus I sebesar 14 dan berkategori sangat aktif.

2)        Hasil observasi aktivitas guru

Hasil observasi diperoleh dari pengamatan yang dilakukan oleh guru sejawat (pendamping) dengan mengisi lembar observasi yang telah dipersiapkan. Semua aktivitas guru yang nampak diberi tanda rumput dalam lembar observasi. Adapun hasil yang diperoleh yaitu aktivitas guru berada diinterval 7-6 yang tergolong dalam kategori sangat baik.

3)        Hasil evaluasi belajar siswa

Berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilaksanakan diperoleh data seperti pada tabel berikut ini :

Tabel 1.2 Nilai Hasil Evaluasi Siswa Siklus II

No

Nama Siswa

Jumlah

Skor

Keterangan

Tuntas

Tidak

1

Amril Rahmat Rahim

70

2

Dedi Supriadi

70

3

Dendi Putrawan

90

4

Dodik Krismon

60

5

Erwin

70

6

Erwin Pradana

75

7

Esi Yusmita

70

8

Fedri Haduanto

55

9

Gito Saputra

70

10

Hendi Hariawan

58

11

Heri Efendi

68

12

Heri Satri Sukma

76

13

Ikawati

70

14

Irawan Wahyudi

80

15

Juhaeni

75

16

Jumadil Akhir

80

17

Lili Rahayu Septiana

70

18

Megawati

75

19

Muniati

70

20

Pandi Hardianto

79

21

Pina Handayani

70

22

Pipin Nopia

70

23

Sahrul Nizam Al-Fazani

68

24

Silvia Haerani

80

25

Tarmizi

70

26

Tomi Arizona

71

27

Yanti Temarwut

69

28

Yogi Komala Tobing

78

29

Zohri

80

Jumlah

2087

25

3

Rata-rata Nila

71,96

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa hasil evaluasi belajar siswa diperoleh rata-rata nilai sebesar 71,96. Dari 29 siswa Pada siklus II ini terdapat 25 siswa yang tuntas dan 3 siswa tidak tuntas. Sehingga ketuntasan klasikal diperoleh 86,20%. Karena ketuntasan klasikal tercapai apabila banyaknya siswa yang tuntas ≥ 85%, maka pada siklus II ini ketuntasan klasikal sudah tercapai.

d)   Refleksi

Hasil yang diperoleh pada siklus II rata-rata persentase aktivitas belajar siswa sebesar 71,96 dan persentase ketuntasan klasikal sebesar 86,20%.

Dari hasil penelitian siklus II dapat disimpulkan terdapat peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada materi campuran.

Dari tindakan siklus II dapat diketahui bahwa target yang telah ditetapkan dalam kurikulum telah tercapai yaitu 85% siswa yang mendapat ≥ 65. Dengan demikian maka siklus berikutnya tidak dilaksanakan.

  1. B.       Pembahasan

Analisis hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil analisis diatas, persentase ketuntasan belajar siswa siklus I sebesar 72,41% dengan nilai rata-rata sebesar 62,58 dan aktivitas siswa sebesar 12 yang berkategori aktif.

Menurut target kurikulum bahwa proses belajar siswa dikatakan berhasil apabila ketuntasan belajar siswa minimal 85%. Berdasarkan hal tersebut, maka hasil belajar siswa pada siklus pertama belum dikatakan memenuhi target kurikulum. Ini berarti bahwa apa yang dicapai pada siklus I, baik dilihat dari hasil belajar dan aktifitas siswa belum mencapai target yang ditetapkan.

Hal yang menyebabkan tindakan pada siklus pertama belum mencapai ketuntasan belajar adalah siswa belum terbiasa dan belum mempunyai pengalaman tentang metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Masih terdapat siswa yang tampak pasif dalam mengikuti pembelajaran, dimana kurangnya kesadaran siswa dalam menjawab LDS dan siswa mengharapkan jawaban dari temannya. Kurangnya kemampuan guru dalam mengelola kelas dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, serta kurangnya komunikasi antarsiswa pada saat terjadi diskusi kelompok.

Berdasarkan refleksi terhadab pelaksanaan tindakan yang dilakukan pada siklus I, maka pada siklus II ketuntasan dicapai sebesar 86,208% dengan nilai rata-rata sebesar 71,96 dan aktivitas siswa sebesar 14 berkategori sangat aktif, ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada siklus II telah memenuhi target kurikulum.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas VII.C SMP Negeri 2 Gangga Tahun Pelajaran 2012/2013.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam pembelajaran PKn dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan persentase ketuntasan belajar pada siklus II di kelas VII.C SMP Negeri 2 Gangga Tahun Pelajaran 2012/2013.

Saran

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada penelitian ini, maka saran-saran yang disampaikan adalah:

  1. Dengan memperhatikan kelemahan-kelemahan pada pelaksanaan penelitian ini diharapkan bagi peneliti yang ingin meneliti lebih lanjut dapat meminimalisasi kelemahan-kelemahan tersebut agar hasil yang diperoleh lebih baik.
  2. Mengingat pada siklus II ketuntasan belajar sudah mencapai target kurikulum maka diharapkan adanya perhatian dan pengulangan dari guru bidang studi yang bersangkutan agar dapat memilih model atau metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajar.
  3. Kepada guru PKn SMP Negeri 2 Gangga dan guru PKn di sekolah lain diharapkan mengoptimalkan metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw sebagai salah satu alternatif model atau metode pembelajaran.
  4. Kepada pembaca yang ingin meneliti lebih lanjut diharapkan dapat mencoba sehingga dapat menghasilkan hasil yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto, S dan suhardjono. 2009. Penelitian tindakan kelas. Jakarta: Bumi aksara

Depdiknas. 2005. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

Depdiknas. Buku teks Pendidikan Kewarganegaraan: untuk SMP dan MTs Kelas VII

Purwanto. 2011. Evaluasi hasil belajar.Yogyakarta: pustaka pelajar.

Bermawi, M. 2005. Strategi Pembelajaran Aktif. Jogyakarta.CTSD.

Imam, dkk. 2004. Bahasa Indonesia: Materi Pelatihan Terintegrasi Buku 2 (INA-10:

Pengembangan Keterampilan Berbicara.Jakarta: Depdiknas.

Johnson,B Elaine. 2008. Contextual Teaching  and Learning. Bandung: Mirza Media Utama.

Milan, Riyanto. 2002. Pendekatan dan Metode Pembelajaran Bahan Penataran untuk  

Instruktur. Malang: Proyek Peningkatan Mutu.

Oemar, Hamalik. 2003. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA.

Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Parera, Jos D. 1982. Belajar Mengemukakan Pendapat.Jakarta: Arlangga.

Tim. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta.

Wibowo, Basuki. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

Hasil PTK MGMP PKn SMP Kab. Lombok Utara Klpk. Wilayah Bayan 2012

 

 

 

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

PENINGKATAN  AKTIVITAS BELAJAR PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN PKN MELALUI MODEL MAKE – A MATCH  DI KELAS  VII.1 SMPN 2 BAYAN TAHUN 2012

 

I KETUT PUSPA, S.Pd., BAIQ RAUHIN, S.Pd., PUHALKI, S.Pd., HAMDAN YUSUF, S.Pd. MH

ISNOWO, S.Pd., ENDING NINGSIH, S.Pd DRIA SARI, S.Pd. SOPIAN HADI, S.Pd.

ABSTRAK: Pada proses belajar mengajar guru lebih mendominasi kelas, sedangkan siswa masih pasif. Aktivitas siswa terbatas pada mendengar, mencatat dan menjawab pertanyaan guru. Proses belajar mengajar seperti ini jelas membuat siswa tidak termotivasi untuk belajar dan beraktivitas. Untuk itu perlu diterapkan suatu model yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, salah satunya dengan menggunakan Model Make- A Match. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan Model Make- A Match  untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi siswa dan guru. Lembar observasi digunakan untuk mengumpulkan data mengenai aktivitas siswa dan aktivitas guru selama proses pembelajaran berlangsung. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa pada siklus I persentase aktivitas siswa sebesar 72 dengan kategori aktif, dan keterlaksanaan pembelajaran sebesar 87 % dengan kategori sangat aktif, sedangkan hasil penelitian pada siklus II bahwa aktivitas siswa sebesar 83 dengan kategori sangat aktif, dan keterlaksanaan pembelajaran sebesar 100 % dengan kategori sangat aktif, oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa penerapan Model Make- A Match  dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VII.1 SMP Negeri 2 Bayan Tahun Pelajaran 2012/2013.

Kata Kunci : Model Make- A Match  , Motivasi belajar siswa

Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan dimasa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya. Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi kompetensi peserta didik.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai hasil pembaruan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tersebut menghendaki, bahwa suatu pembelajaran pada dasarnya tidak hanya mempelajari tentang konsep, teori dan fakta tetapi juga aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian materi pembelajaran tidak hanya tersusun atas hal-hal sederhana yang bersifat hafalan dan pemahaman, tetapi juga tersusun atas materi yang kompleks yang memerlukan analisis, aplikasi dan sintesis. Untuk itu, guru harus bijaksana dalam dalam menentukan suatu model yang sesuai yang dapat menciptakan situasi dan kondisi kelas yang kondusif agar proses belajar mengajar dapat berlangsung sesuai dengan tujuan yang diharapkan. (Trianto, 2009; 1 dan 8)

Guru yang efektif memiliki karakteristik hubungan dengan peserta didik bersahabat, menjadi mitra belajar sambil menghibur peserta didik, menyayangi peserta didik seperti anaknya sendiri, adil, memahami kebutuhan setiap peserta didik serta beusaha memberikan yang terbaik untuk peserta didiknya dan mampou membantu anak didiknya menuju kedewasaan. (Marno dkk, 2008; 29)

Pembelajaran menunjuk pada proses belajar yang menempatkan peserta didik sebagai center stage perpormance. Pembelajaran lebih menekankan bahwa peserta didik sebagai mahluk berkesadaran memahami arti penting interaksi dirinya dengan lingkungan yang menghasilkan pengalaman adalah kebutuhan. Kebutuhan baginya mengembangkan seluruh potensi kemanusiaan yang dimilikinya. Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang menyenangkan yaitu pembelajaran dengan suasana socio emotional climate positif. Peserta didik merasakan bahwa proses belajar yang dialaminya bukan sebuah derita yang mendera dirinya, melainkan berkah yang harus disyukurinya. Belajar bukanlah tekanan jiwa pada dirinya, namun merupakan panggilan jiwa yang harus ditunaikannya. Pembelajaran menyenangkan menjadikan peserta didik ikhlas menjalaninya. (Agus Sufrijono, 2009; 9)

Berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya siswa SMP kelas VII menunjukkan sikap kurang bergairah, kurang aktif, kelas kurang berpusat pada siswa dan kadang-kadang ada yang bermain sendiri di dalam kelas. Siswa yang aktif dalam pembelajaran sekitar 60%. Ini merupakan masalah yang dihadapi pada mata pelajaran PKn. Kondisi yang seperti ini  tentunya sangat tidak diharapkan  dalam proses belajar mengajar.

Sebenarnya guru telah berusaha menciptakan pembelajaran agar siswa lebih aktif, diantaranya: pengamatan objek langsung, diskusi kelompok mengerjakan LKS , menggunakan media yang ada di sekolah, dan mengunakan metode tanya-jawab. Namun hasilnya belum dapat meningkatkan gairah dan aktivitas secara maksimal.

Jika kondisi yang seperti ini tidak dicarikan alternatif pemecahan masalahnya, maka guru tetap sebagai sumber informasi satu-satunya dikelas, tidak ada tukar informasi, penguasaan konsep dan hasil belajar biologi siswa tetap  rendah, dan pembelajaran biologi jadi membosankan.

Penelitian tindakan kelas ini betujuan untuk mengetahui penggunaan Model Make- A Match  untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran PKn di kelas VII.1 SMPN 2 Bayan Tahun Pelajaran 2012/2013.

Motivasi adalah “keadaan dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan” (soeharto dkk,2003:110). Dalam buku psikologi pendidikan Drs. M. Dalyono memaparkan bahwa “motivasi adalah daya penggerak /pendorong untuk melakukan sesuatu pekerjaan,yang bisa berasal dari dalam diri atau juga dari luar’ (http;//www. Sarjanaku.com)/(Dalyono, 2005)

Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Adanya motifasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Intensitas motifasi seorang peserta didik akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya (Serdiman, 2011; halaman 85).

  1. Belajar dalam arti luas dapat diartikan sebagai suatu proses yang memungkinkan timbulnya atau berubahnya suatu tingkah laku sebagai hasil dari terbentuknya respon utama,dengan sarat bahwa perubahan atau munculnya tingkah laku baru itu bukan disebabkan oleh adanya kematangan atau oleh adanya perubahan sementara oleh suatu hal (http;//www. Sarjanaku.com)/(Nasution,dkk; 1992;3) dengan demikian motivasi dalam proses pembelajaran sangat dibutuhkan untuk terjadinya percepatan dalam mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran secara khusus. Salah satu upaya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam mengikuti pelajaran PKn diantaranya kita menggunakan Model Make- A Match

Model Pembelajaran Make – A Match / mencari pasangan (Lorna Curran, 1994)

Langkah-langkah :

  1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban
  2. Setiap siswa mendapat satu buah kartu
  3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang
  4. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban)
  5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin
  6. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
  7. Demikian seterusnya
  8. Kesimpulan/penutup

Melalui model pembelajaran Make – A Match pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan dapat mengetahui peningkatan aktivitas peserta didik dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII.1 SMPN 2 Bayan.

METODE  PENELITIAN

Subyek penelitian adalahsiswa kelas VII.1 SMPN 2 Bayan dengan jumlah siswa 40 orang,  jumlah laki-laki 19 orang dan perempuan 21 orang. Rancangan penelitian adalah penelitian indakan kelas atau Classroom based action research. Penelitian terdiri atas dua siklus.Siklus I dilaksanakan pada 5 November 2012 danSiklus II padatanggal 8 Desember 2012.Masing-masing siklus melalui tahap perencanaan tindakan, pelaksanaantindakan, observasi, danrefleksi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

  1. A.  HASIL PENELITIAN

 

  1. Data Hasil Penelitan

Data yang sudah dikumpulkan kemudian disajikan dalam bentuk tabel.

Adapun data tersebut disajikan pada tabel berikut :

Tabel 1.1 Keterlaksanaan Pembelajaran

Siklus

Skor

Terlaksana

Tidak Terlaksana

 I (pertama)

7

1

II (kedua)

8

0

Tabel 1.2 Motivasi Siswa

Siklus

Skor

Motivasi

 Tidak Termotivasi

 I (pertama)

13

5

II (kedua)

15

3

  1. Analisis Data

Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan diperoleh hasil rata-rata persentase keterlaksanaan pembelajaran yaitu 87% pada sikus I dan 100% pada siklus II. Sedangkan nilai pengamatan motivasi siswa yaitu 72,2 pada siklus I dan 83,3 pada siklus II. Dilihat dari persentase keterlaksanan pembelajaran dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dapat dinyatakan bahwa pembelajaran dengan menggunakan Melalui model pembelajaran Make – A Match pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan dapat mengetahui peningkatan aktivitas peserta didik dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII.1 SMPN 2 Bayan.

Melalui model pembelajaran Make – A Match pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan dapat mengetahui peningkatan aktivitas peserta didik dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII.1 SMPN 2 Bayan.

Dengan  Make – A Match berhasil meningkatkan motivasi belajar siswa.

Untuk analisis data guna mengetahui keberhasilan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Make – A Match pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan dapat mengetahui peningkatan aktivitas peserta didik dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII.1 SMPN 2 Bayan.

Data dianalisis dengan rumus sebagai berikut :

  1.  Analisis Data Pengamatan terhadap Guru

Jumlah langkah KBM terlaksana

%Keterlaksanaan =   ___________________________ X 100%

                                 Jumlah langkah KBM dalam RPP

Hasil perhitungan data pada siklus I

% keterlaksanaan

 

= 87%

Hasil perhitungan data pada siklus II

% keterlaksanaan =

= 100%

  1. Analisis data pengamatan terhadap siswa

                                       Jp

           S            =  _____________ x  100

                                   Skor maksimal

Hasil perhitungan data pada siklus I

S  =

                                             = 72,2

Hasil perhitungan data pada siklus I

S =

                                           = 83,3

 

 

  1. B.       PEMBAHASAN

 

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan, maka dapat dijelaskan bahwa pembelajaran menggunakan Melalui model pembelajaran Make–A Match pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan dapat mengetahui peningkatan aktivitas peserta didik dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII.1 SMPN 2 Bayan.

meningkatkan motivasi belajar siswa.

Pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan tanpa inovasi dapat membuat siswa merasa jenuh dan tidak aktif. Hal ini terlihat dari sikap dan prilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung, seperti peserta didik mengantuk, mengganggu teman, berbicara dengan teman, mencoret –coret buku atau meja, menggambar di buku catatan dan kegiatan lain selain belajar.

Dalam proses pembelajaran seharusnya siswa bersikap semangat, rasa ingin tahu tinggi, berperan aktif dan gembira. Hal ini dapat menunjukkan motivasi yang tinggi dalam proses belajar.

Motivasi merupakan keadaan dalam diri seseorang dalam diri seseorang    yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan guna mencapai suatu tujuan. Motivasi dalam proses pembelajaran sangat dibutuhkan untuk terjadinya percepatan dalam mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran.

Penelitian ini menggunakan Melalui model pembelajaran Make – A Match pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan dapat mengetahui peningkatan aktivitas peserta didik dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII.1 SMPN 2 Bayan.

. Pembelajaran Make – A Match terdiri dari lima  komponen utama, yaitu pembentukan kelompok, penyajian kelas, kegiatan kelompok, pemberian Kartu, dan penghargaan kelompok. Adapun pelaksanaannya dilakukan dalam dua siklus dengan materi pelajaran tentang Makna Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi yang pertama. Pengamatan dilakukan terhadap keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan keefektifan penggunaan Melalui model pembelajaran Make – A Match pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan dapat mengetahui peningkatan aktivitas peserta didik dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas VII.1 SMPN 2 Bayan.

Pada siklus pertama, materi yang dijelaskan yaitu mengenai Makna Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi yang pertama. Jumlah siswa kelas VII.1. yaitu 35 orang. Pada pelaksanaan pembelajaran pada siklus ini, ada beberapa kekurangan dalam keterlaksanaan pembelajaran dan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar. Pada keterlaksanaan pembelajaran guru membagi kelompok cukup besar yakni terdiri dari 6 orang siswa, sedangkan pada model Make – A Match  ini anggota  kelompok diharapkan lebih kecil antara 4-5 orang siswa sehingga pada saat diskusi anggota kelompok lebih terfokus dan mengurangi waktu untuk bermain. Kemudian pada pemberian tugas untuk diskusi kelompok, guru belum memberikan alokasi waktu dalam mengerjakan tugas tersebut, sehingga ada siswa yang santai dalam mengerjakannya. Saat pemberian kuis guru mengajukan pertanyaan dengan menunjuk siswa tertentu untuk menjawab, sehingga siswa yang lain tidak memiliki kesempatan untuk menjawab pertanyaan. Diharapkan pertanyaan yang diberikan ditujukan untuk seluruh siswa sehingga siswa diajak untuk berfikir bersama dalam menjawab pertanyaan tersebut.

Pada pengamatan terhadap siswa, pada umumnya siswa sudah aktif dalam proses belajar mengajar namun ada beberapa siswa yang malu untuk bertanya. Berdasarkan uraian diatas diperoleh persentase keterlaksanaan pembelajaran oleh guru sebesar 87 % sedangkan sebanyak 72,2 siswa sudah termotivasi dengan baik dalam belajar dari persentase yang diharapkan sebesar 75%. Kekurangan  yang terjadi pada siklus pertama diharapkan dapat diperbaiki pada siklus kedua.

Pada siklus II, materi yang disampaikan merupakan  lanjutan dari materi sebelumnya yakni mengenai Makna Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi yang pertama. Kegiatan  pembelajaran terlaksana  dengan baik dan lancar. Siswa terlihat sangat bersemangat dalam mengikuti kegiatan pelajaran. Kekurangan yang terjadi di siklus 1 sudah dapat diperbaiki antara lain pembagian kelompok sudah lebih kecil yaitu tiap kelompok  terdiri dari 4-5 orang siswa dengan jumlah kelompok seluruhnya, yaitu 8 kelompok. Dalam pemberian tugas diskusi kelompok guru sudah memberi alokasi waktu dalam mengerjakan tugas sehingga siswa lebih termotivasi dalam mengerjakannya. Guru juga sudah memberikan pertanyaan keseluruh siswa sehingga setiap siswa memiliki kesempatan untuk menjawab. Namun pada siklus ini pembagian tugas dimasing-masing anggota kelompok belum terlaksana dengan baik dan guru juga diharapkan memberi nama dimasing-masing kelompok sesuai dengan materi yang disampaikan sehingga menjadi daya tarik dan motivasi bagi siswa dalam mengikuti pelajaran. Guru juga memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki skor tertinggi dalam menjawab kuis berupa pensil boneka , sehingga hal ini dapat memotivasi siswa dalam menjawab pertanyaan.

Dalam keterlaksanaan pembelajaran oleh guru diperoleh persentase sebesar 100 % sehingga dapat dikatakan guru sudah berhasil dalam melaksanakan pembelajaran dengan model Make – A Match  dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di kelas VII.1 dengan persentase sebesar 83,3 sehingga mengalami peningkatan dari siklus pertama dengan kategori siswa angat termotivasi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

SIMPULAN DAN SARAN

SIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:

  1.  Keterlaksanaan pembelajaran pada siklus 1 mencapai 87% sedangkan pada siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 100% dan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran pada siklus 1 sebesar 72,2 dengan kategori termotivasi dengan baik sedangkan pada siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 83,3 dengan kategori sangat termotivasi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
  2. Penggunaan Make – A Match  dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran PKn di kelas VII.1 SMPN 2 Bayan Tahun Pelajaran 2012/2013.

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dicapai dalam penelitian ini maka saran yang dapat diberikan adalah  diharapkan pada guru PKn untuk menerapkan Make – A Match  pada pokok bahasan yang lain dan kelas yang berbeda sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan variasi guru dalam mengajar lebih inovatif.

DAFTAR PUSTAKA

Bermawi, M. 2005. Strategi Pembelajaran Aktif. Jogyakarta.CTSD.

Imam, dkk. 2004. Bahasa Indonesia: Materi Pelatihan Terintegrasi Buku 2 (INA-10: Pengembangan Keterampilan Berbicara.Jakarta: Depdiknas.

Johnson,B Elaine. 2008. Contextual Teaching  and Learning. Bandung: Mirza Media Utama.

Milan, Riyanto. 2002. Pendekatan dan Metode Pembelajaran Bahan Penataran untuk Instruktur. Malang: Proyek Peningkatan Mutu.

Oemar, Hamalik. 2003. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Parera, Jos D. 1982. Belajar Mengemukakan Pendapat.Jakarta: Arlangga.

Tim. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta.

Wibowo, Basuki. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

Hasil PTK MGMP PKn SMP Kab. Lombok Utara Klpk. Wilayah Tanjung 2012

 

UPAYA  PENINGKATAN MOTIVASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN PKn

DENGAN   MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN  KOOFERATIF LEANING TIFE  JIGSAW ,KELAS VII  SEMESTER  1 SMPN 1 TANJUNG TAHUN PELAJARAN 2012 /2013.

 

ISMAIL MUJI, SPd. SITI MA’ANI, S.Pd. EKA SUSIANTI, S.Pd. Bq. SUSIANI, S.Pd. Dra. Bq. HURMAYATI MUFTY KAMIL, S.Pd. NI NYM.  SUKARMINI, S,Pd. I NI AYU DESNI WATI, S.Pd. NI LUH TESI, S.Pd. EVI SUSILAWATI, S.Pd. HAITUL MASNAWATI, S.Pd. YUYUN RAUFIANI, S.Pd.

 

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah penerapan model pembelajaran  Kooferatif Leaning Tife  Jigsaw  efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VII di SMPN 1 Tanjung  Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas.  Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan November 2012 sampai dengan Desember 2012, dilaksanakan dalam dua siklus dengan subjek penelitian siswa kelas VII.5 SMP Negeri Tanjung, Tahun Pelajaran 2012/2013 yang terdiri dari 36 orang siswa. Pencapaian siklus  I dengan nilai rata-rata aktivitas siswa () sebesar 12,6 (kategori cukup aktif). Pencapain siklus II dengan nilai rata-rata aktifitas siswa  () sebesar 15,4 (kategori aktif).  sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan Model Pembelajaran Kooferatif Leaning Tife  Jigsaw mampu meningkatkan Aktivitas siswa dalam pembelajaran PKn di kelas VII. 5 SMPN 1 Tanjung semester 1 Tahun Pelajaran 2012/2013.

Kata kunci : CooperativeLearning, Kepala Bernomor Struktur,Motivasi.

 

Sebagai mahluk sosial, manusia memerlukan pendidikan guna pengembangan potensi diri melalui proses pembelajaran agar eksistensinya diakui oleh masyarakat. berdasarkan undang –undang System Pendidikan Nasional Repuplik Indonesia no. 20 tahun 2003 bertujuan mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta  yang bertanggung jawab.

Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional,guru mempunyai peranan yang sangat penting. Tugas seorang guru tidak hanya memberikan pengetahuan kepada peserta didik tetapi lebih jauh dari itu juga turut membentuk pribadi anak agar menjadi manusia pembangunan sesuai dengan falsafah pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Kedudukan seorang guru dalam dunia pendidikan begitu penting maka guru dibekali dengan segenap ilmu pengetahuan dan keterampilan yang memadai agar mampu melaksanakan tugas dan tanggunggung jawab sehingga dapat berhasil dengan baik, namun semuanya itu belum memadai sebagai bekal bagi guru yang professional dan berkualitas tinggi. Salah satu bekal yang tidak kalah pentingnya adalah pengalaman guru dalam mengajar serta menentukan metode Pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan disajikan.

Dalam mengajarkan bidang studi PKn di butuhkan strategi belajar mengajar yang dilengkapi dengan metode pembelajaran yang sesuai dan hendaknya tidak terpaku pada satu jenis metode saja, tetapi harus menggunakan metode yang bervariasi agar jalannya proses belajar mengajar tidak membosankan dan tetap menarik perhatian peserta didik sehingga peserta didik termotivasi untuk belajar.

Berdasarkan pendapat di atas, untuk memeberikan kesempatan kepada peserta didik belajar lebih aktif, partisipatif dalam proses belajar mengajar serta mampu berinteraksi satu sama lain diperlukan strategi dan metode pembelajaran yang tepat oleh guru. Salah satu bentuk metode pembelajaran yang bersifat inovatif adalah penggunaan Model Pembelajaran Kooferatif Leaning Tife  Jigsaw Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui apakah penerapan  Model Pembelajaran Kooferatif Leaning Tife  Jigsaw mampu meningkatkan Aktivitas siswa dalam pembelajaran PKn di Kelas VII.5  Semester 1 SMP Negeri 1 Tanjung Tahun Pelajaran 2012/2013.

Model Pembelajaran Kooferatif Leaning Tife  Jigsaw adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif di mana pembelajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa yang bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mendapatkan pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Pada pembelajaran tipe Jigsaw ini setiap siswa menjadi anggota dari 2 kelompok, yaitu anggota kelompok asal dan anggota kelompok ahli. Anggota kelompok asal terdiri dari 3-5 siswa yang setiap anggotanya diberi nomor kepala 1-5. Nomor kepala yang sama pada kelompok asal berkumpul pada suatu kelompok yang disebut kelompok ahli.

Hasil belajar merupakan pencapaian tujuan pendidikan pada siswa yang mengikuti proses belajar mengajar. Hasil belajar perlu dievaluasi. Evaluasi dimaksudkan sebagai cermin untuk melihat kembali apakah tujuan yang ditetapkan telah tercapai dan apakah proses belajar mengajar telah berlangsung efektif untuk memperoleh hasil belajar.

.

Menurut Suprijono (2009), terdapat ragam metode dalam model pembelajaran kooperatif, diantaranya metode  jigsaw, metode think-pair-share, metode numbered  head together, metode two stay two stray, metode make a match, metode listening team, metode bamboo dancing, metode kepala bernomor struktur, metode the power of  two, serta masih banyak lagi metode pendukung lainnya.

Model Pembelajaran Kooferatif Leaning Tife  Jigsaw adalah suatu Model pembelajaran yang lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas (Rahayu, 2006). Tife  Jigsaw adalah bagian dari model pembelajaran kooperatif struktural, yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur Kagan menghendaki agar para siswa bekerja saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif.

Struktur tersebut dikembangkan sebagai bahan alternatif dari struktur kelas tradisional seperti mangacungkan tangan terlebih dahulu untuk kemudian ditunjuk oleh guru untuk menjawab pertanyaan yang telah dilontarkan. Suasana seperti ini menimbulkan kegaduhan dalam kelas, karena para siswa saling berebut dalam mendapatkan kesempatan untuk menjawab pertanyaan peneliti (Tryana, 2008). Menurut Kagan (2007) Model Pembelajaran Kooferatif Leaning Tife  Jigsaw ini secara tidak langsung melatih siswa untuk saling berbagi informasi, mendengarkan dengan cermat serta berbicara dengan penuh perhitungan, sehingga siswa lebih produktif dalam pembelajaran.

Istilah kata motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Motif tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat diinterpretasikan dalam tingkah laku tertentu (Hamzah, 2006: 3).

“Motivasi merupakan keseluruhan daya penggerak di dalam peserta didik yang dapat menimbulkan kegiatan belajar menjamin kelangsungan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga rujuan belajar dapat tercapai” (Sardiman A.M, 1996: 74).Hamzah B. Uno (2007: 1) mendefinisikan motivasi sebagai dorongan besar dalam diri seseorang yang dapat menggerakkan tingkah laku sehingga melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Menurut Slameto (2003: 55), “motivasi belajar adalah faktor kejiwaan yang berasal dari dalam diri seseorang yang tidak bersifat intelektual (non intelektual), yang memiliki peranan khusus dalam membangkitkan gairah, mendorong semangat, rasa nyaman, senang, dan rindu untuk belajar”. Sedangkan menurut Dimyati, dkk (2006: 238), “Motivasi Belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar”.

Motivasi belajar pada diri peserta didik dapat menjadi lemah apabila kondisinya tidak kondusif. Lemahnya atau tiadanya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan belajar. Selanjutnya mutu hasil belajar akan menjadi rendah. Oleh karena itu, motivasi belajar pada diri peserta didik perlu diperkuat terus menerus. Agar peserta didik memiliki motivasi belajar yang kuat pada tempatnya diciptakan suasana belajar yang menggembirakan. Motivasi merupakan bagian dari belajar. Peserta didik akan berusaha sekuat tenaga apabila dia memiliki motivasi yang besar untuk mencapai tujuan belajar. Peserta didik akan belajar dengan sungguh-sungguh tanpa dipaksa apabila memiliki motivasi yang besar, dengan demikian diharapkan akan mencapai prestasi yang tinggi. Ini berarti, apapun tindakan yang dilakukan seseorang selalu ada motif tertentu sebagai dorongan dia melakukan tindakannya itu.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah motivasi belajar adalah faktor kejiwaan yang berasal dari dalam diri seseorang yang tidak bersifat intelektual (non intelektual), dan memiliki peranan khusus dalam mendorong semangat untuk belajar.

Motivasi sangat berperan dalam belajar, peserta didik yang dalam proses belajar mempunyai motivasi yang kuat dan jelas pasti akan tekun dan berhasil belajarnya. Makin tepat motivasi yang diberikan, makin berhasil pelajaran itu.

Motivasi akan senantiasa menenutkan intensitas usaha belajar bagi peserta didik. Adapun fungsi motivasi menurut Sardiman (1996: 84) ada tiga yaitu: (1) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi,(2)  Menentukan arah perbuatan yakni kearah tujuan yang hendak dicapai, (3) Menyeleksi perbuatan yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dijalankan yang serasi guna mencapai tujuan itu dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Oemar Hamalik (2007: 108) mengemukakan ada 3 fungsi motivasi. Fungsi-fungsi tersebut adalah sebagai pendorong timbulnya suatu tingkah laku atau perbuatan, motivasi berfungsi sebagai pengarah dan motivasi berfungsi sebagai penggerak. Sedangkan menurut Fidelis E . Waruwu (2006: 25) fungsi-fungsi motivasi antara lain untuk memulai, mengarahkan, menyokong dan membuat seseorang sensitif dalam belajar sehingga apabila motivasi belajar tumbuh maka peserta didik akan melakukan kegiatan belajar dengan senang maka prestasi belajarnya akan tercapai.

Dapat disimpulkan bahwa motivasi mempunyai beberapa fungsi yang sangat penting dalam suatu kegiatan belajar. Fungsi-fungsi tersebut adalah sebagai penggerak tingkah laku, sebagai arah untuk mencapai tujuan, sebagai penyaring dan sebagai penyokong agar peserta didik lebih menikmati belajar.

Dari pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa besarnya motivasi berprestasi yang ada pada diri seseorang akan tercermin pada tingkahlakunya. Seseorang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan mempunyai beberapa ciri yang membedakan dirinya bila dibandingkan dengan seseorang yang memiliki motivasi berprestasi yang rendah.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitin tindakan kelas (Classroom Action Research) yang merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru  dengan tujuan untuk memperbaiki hasil kerjanya (Arikunto, 2008).Subjek penelitian  ini adalah siswa kelas VII.5 SMP Negeri 1 Tanjung , Semester 1 Tahun Pelajaran 2012 / 2013  yang terdiri dari 36 orang siswa. Objek penelitian ini adalah : 1) Motivasi  belajar  siswa dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooferatif Leaning Tife  Jigsaw pada materi Makna Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi yang Pertama, 2) Aktivitas guru sebagai pengajar.Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan November 2012  sampai dengan bulan Desember 2012.Penelitian ini  telah dilakukan di SMP Negeri 1 Tanjung pada Siswa kelas VII.5 semester 1 Tahun Pelajaran 2012 / 2013. Penelitian ini   dilaksanakan dalam dua siklus setelah tercapai indikator kerja. Setiap siklus dilaksanakan dalam empat tahap yaitu : perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.

Adapun alur penelitian tindakan kelas ini  dapat dilihat pada Gambar 3.1 sebagai berikut.

Gambar 3.1 :   Alur Penelitian Tindakan Kelas Yang Telah  dilakukan

HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN

A. Hasil  Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa  kelas VII.5 SMP Negeri 1 Tanjung tahun pelajaran 2012/2013  pada materi Makna Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi yang Pertama dengan menggunakan Model Pembelajaran Kooferatif Leaning Tife  Jigsaw

Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus penelitian. Tiap siklus memiliki tahapan yaitu :Perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/observasi, dan refleksi. Data motivasi belajar siswa siklus I  dan  siklus II pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut ini :

Tabel 4.1  Data Hasil Observasi siswa

No

Data

Siklus

I

II

1

Aktivitas Belajar siswa  (X)

12,6

15,4

Kategori

Cukup Aktif

Aktif

Aktivitas belajar siswa tiap siklus dapat dilihat dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar 4.2 berikut :

B.  Pembahasan

kelas VII.5 memiliki permasalahan dalam  motivasi belajar . Hal ini kemudian didiskusikan dengan guru bidang studi (guru senior) . Dari hasil diskusi disimpulkan bahwa kelas VII.5 perlu mengalami pembelajaran yang baru dengan metode yang baru. Untuk itu dibentuklah kelompok pembelajaran. Selain  kemampuan awal siswa, pembentukan kelompok juga berpengaruh terhadap kemampuan siswa sehingga pembuatan kelompok didasarkan pada jenis kelamin, keragaman agama, dan suku bangsa mereka.

Hal tersebut  bertujuan untuk mendekatkan siswa yang satu dengan lainnya agar mereka bisa saling membantu satu dengan lainnya dalam proses pembelajaran, dimana siswa yang berkemampuan lebih dapat membantu siswa lain yang berkemampuan kurang. Dari penelitian ini didapat hasil dari dua siklus adalah sebagai berikut :

Siklus I

Pada sikus I didapati jumlah siswa yang hadir adalah sebanyak 30 Orang siswa/ siswi. Dari hasil analisis data obserfasi siswa didapat bahwa rata-rata nilai untuk aktifitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan metode kepala bernomor struktur adalah sebesar 12, 6 (dengan kategori aktif).

Akan tetapi pada siklus I terdapat beberapa kekurangan diantaranya masih kurangnya siswa dalam bertanya, serta masih terdapat beberapa siswa yang masih asyik dengan kegiatan sendiri (tidak konsentrasi dengan pelajaran). Selain itu pada siklus ini guru dalam mengajar masih belum sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun diantaranya guru lupa menggali motifasi dan pengetahuan awal siswa pada sesi awal pembelajaran.

SiklusII

Pada siklus II didapat jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran adalah 31 orang siswa. Dari hasil analisis data obserfasi siswa didapat bahwa rata-rata nilai untuk aktifitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan metode kepala bernomor struktur adalah sebesar 15,4 (dengan kategori aktif). Pada siklus II, berdasarkan hasil pengamatan pada kegiatan guru mengajar, didapati dari hasil pengamatan bahwa guru telah mengajar sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun. Hal ini nampak dari lembar obserfasi guru dimana semua indikator aktifitas guru telah nampak.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan  data hasil penelitian dan pembahasan  dapat disimpulkan bahwa motivasi siswa mengalami peningkatan dalam mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode kepala bernomor struktur yakni dari pencapaian siklus I sebesar 12,6 menjadi 15,4 pada siklus II. Berdasarkan hasil yang didapat tersebut maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran menggunakan metode kepala bernomor struktur mampu meningkatkan motivasi belajar siswa.

Saran

Beberapa saran yang penulis berikan antara lain :

  1. Diharapkan adanya penelitian lanjutan tetang metode kepala bernomorr struktur pada pokok bahasan yang lain sehingga didapatkan data lainnya sebagai masukan bagi para pengajar untuk mempertimbangkan penggunaan kepala bernomor struktur.
  2. Bagi para guru serta peneliti lainnya diharapkan lebih kreatif dan variatif dalam menggunakan metode pembelajaran serta menyesuaikan materi yang hendak diajarkan dengan metode yang hendak digunakan sehingga siswa tidak bosan dan tujuan pembelajaran yang diharapkan tercapai.

DAFTAR  PUSTAKA

Anonim. 2002. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta : Depdiknas Ditjen Dikdasmen.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

————————..2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Dalyono, M.. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Djamarah, Syaiful Bahri.2006. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, Suatu Pendekatan Teoritis Psikologis. Jakarta : Rineka Cipta.

Djamarah, Syaiful Bahri.1994. Prestasi Belajar dan Kompetesi Guru. Surabaya : Usaha Nasional

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain.2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Fathurrohman, Pupuh dan M. Sobry Sutikno. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : PT. Rineka cipta.

Isjoni. 2009. Cooperative Learning: Efektifitas Pembelajaran Kelompok. Bandung : Alfabeta.

Muslich, Mansur. 2007. KTSP:Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta : Bumi Aksara.

Nurkencana dan Sunartana. 1992. Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Usaha Nasional.

Sagala, Syaiful H. 2008. Konsep dan Makna Pembelajaran. Jakarta :  PT. Rineka Cipta.

Sudijono, Anas. 2009. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Sudjana, Nana. 2002. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru.

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning: Teori & Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto, S dan suhardjono. 2009. Penelitian tindakan kelas. Jakarta: Bumi aksara

Depdiknas. 2005. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

Depdiknas. Buku teks Pendidikan Kewarganegaraan: untuk SMP dan MTs Kelas VII

Purwanto. 2011. Evaluasi hasil belajar.Yogyakarta: pustaka pelajar.

Bermawi, M. 2005. Strategi Pembelajaran Aktif. Jogyakarta.CTSD.

Imam, dkk. 2004. Bahasa Indonesia: Materi Pelatihan Terintegrasi Buku 2 (INA-10:

Pengembangan Keterampilan Berbicara.Jakarta: Depdiknas.

Johnson,B Elaine. 2008. Contextual Teaching  and Learning. Bandung: Mirza Media Utama.

Milan, Riyanto. 2002. Pendekatan dan Metode Pembelajaran Bahan Penataran untuk  

Instruktur. Malang: Proyek Peningkatan Mutu.

Oemar, Hamalik. 2003. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA.

Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Parera, Jos D. 1982. Belajar Mengemukakan Pendapat.Jakarta: Arlangga.

Tim. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta.

Wibowo, Basuki. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.